dark

Arus Keluar Rekor ETF Bitcoin Dinilai Sebagai Penyesuaian Strategis, Bukan Eksodus Investor Institusional

Gelombang penarikan dana besar-besaran dari produk exchange-traded fund (ETF) berbasis Bitcoin dinilai bukan mencerminkan melemahnya minat institusi, melainkan bagian dari strategi penyesuaian portofolio jangka pendek. Sejumlah analis menegaskan bahwa pergeseran ini lebih dipicu dinamika harga dan kondisi pasar sementara, bukan perubahan fundamental pada prospek Bitcoin.

Tim riset dari bursa kripto Bitfinex mengungkapkan bahwa tekanan jual berasal dari aksi ambil untung oleh pemegang lama Bitcoin serta likuidasi posisi yang terlalu agresif memanfaatkan leverage. Kombinasi faktor tersebut mempercepat koreksi pasar dan mendorong arus keluar dana dari ETF selama beberapa pekan terakhir.

source: https://farside.co.uk/btc/

Selain itu, ketidakpastian seputar kemungkinan kebijakan penurunan suku bunga pada Desember turut membentuk sentimen defensif di kalangan investor. Pergeseran ke mode “risk-off” membuat sebagian pelaku pasar memilih menata ulang eksposur aset berisiko, termasuk Bitcoin, tanpa harus meninggalkan kelas aset tersebut sepenuhnya.

Bitfinex menilai saluran ETF spot masih berfungsi normal dan tetap menjadi pintu masuk utama bagi institusi. Menurut mereka, penarikan dana yang terjadi saat ini lebih mencerminkan reposisi taktis dibandingkan keputusan keluar permanen dari investasi kripto. Narasi jangka panjang Bitcoin sebagai aset lindung nilai dan penyimpan nilai dinilai masih solid, didukung fondasi struktural yang tidak berubah.

Data menunjukkan arus keluar ETF Bitcoin sepanjang November telah melampaui US$3,7 miliar, memperpanjang tekanan yang bermula sejak koreksi tajam pasar kripto pada Oktober. Produk iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock mencatat penarikan terbesar, dengan total lebih dari US$2,47 miliar dalam periode tersebut. Bahkan, pada salah satu hari perdagangan, outflows harian menembus angka US$900 juta.

Kondisi ini membuat sebagian investor ETF berada pada posisi merugi setelah harga Bitcoin turun di bawah level US$90.000. Meski demikian, pelaku industri menilai situasi tersebut tidak otomatis memicu aksi jual panik. Chief Investment Officer Kronos Research, Vincent Liu, menyebut investor ETF umumnya memiliki orientasi jangka panjang dan cenderung mengabaikan fluktuasi harga sesaat.

Sementara itu, analis ETF senior Bloomberg, Eric Balchunas, menilai tekanan jual justru lebih banyak datang dari pemegang Bitcoin lama dan pemilik langsung aset, bukan dari investor yang menempatkan dana melalui instrumen ETF. Hal ini memperkuat pandangan bahwa pelemahan pasar saat ini bersifat koreksi siklik, bukan indikator pelepasan minat institusional terhadap Bitcoin.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Robert Kiyosaki Lepas Seluruh Bitcoin Miliknya, Alihkan Dana ke Bisnis Berbasis Arus Kas

Related Posts
Total
0
Share