
Klausul Preferensial untuk Nova Digital Memicu Sorotan Tata Kelola Investasi
Dokumen hukum yang bocor mengungkap bahwa proyek blockchain Berachain memberikan hak pengembalian dana yang tidak lazim kepada Nova Digital, entitas investasi milik Brevan Howard, atas penanaman modal senilai US$25 juta. Ketentuan ini memungkinkan Nova menuntut kembali sebagian atau seluruh investasinya dalam periode 12 bulan sejak peluncuran token BERA pada 6 Februari 2025, dengan harga patokan US$3 per token.
Praktik tersebut dinilai menyimpang dari standar lazim pendanaan aset kripto. Empat pakar hukum kripto menegaskan bahwa hak pengembalian setelah token melantai adalah bentuk perjanjian yang sangat jarang ditemui dan berpotensi menimbulkan pertanyaan terkait asas keadilan antar investor. Situasi ini semakin sensitif lantaran investor lain dalam putaran pendanaan sama, yang menghimpun US$100 juta dengan valuasi jaringan US$1,5 miliar, mengaku tidak mengetahui adanya klausul preferensial tersebut.
Status Klausul Bergantung pada Setoran US$5 Juta yang Belum Terverifikasi
Keabsahan hak pengembalian dana tersebut tidak berdiri mutlak. Dokumen menyebut Nova diwajibkan menyetorkan US$5 juta ke dompet Berachain dalam waktu 30 hari sejak peluncuran token guna mengaktifkan klausul tersebut, dengan batas waktu pada 8 Maret 2025. Kegagalan melakukan setoran atau penarikan kembali dana tersebut akan otomatis membatalkan hak refund sesuai kontrak.
Hingga kini, tidak ada konfirmasi publik yang memastikan apakah setoran tersebut benar-benar dilakukan, sehingga efektivitas klausul tetap berada dalam status abu-abu hukum. Di sisi pasar, token BERA diperdagangkan di kisaran US$1,01, atau sekitar 66% lebih rendah dari harga investasi Nova, meskipun total nilai terkunci (TVL) jaringan sempat menyentuh US$3,5 miliar pada awal Maret.
Respons Berachain dan Implikasi terhadap Kepercayaan Investor
Pihak Berachain membantah pelaporan yang menyebut adanya keistimewaan sepihak tersebut sebagai tidak akurat dan tidak utuh. Salah satu pendiri, Smokey the Bera, menyatakan bahwa struktur perjanjian yang kompleks menjadi dasar diferensiasi, meski tidak merinci bagian mana yang dianggap keliru.
Di tengah polemik ini, dua investor anonim dari putaran pendanaan yang sama menyampaikan bahwa mereka tidak diberi informasi terkait klausul refund tersebut saat melakukan investasi. Sementara itu, Nova Digital memiliki tenggat hingga 6 Februari 2026 untuk mengeksekusi hak pengembalian apabila klausul tersebut terbukti sah dan aktif.
Perkembangan ini menyoroti pentingnya transparansi kontraktual dalam pendanaan Web3 dan menegaskan kembali kebutuhan standar tata kelola yang setara bagi seluruh pemodal, guna menjaga kredibilitas ekosistem dan stabilitas kepercayaan pasar jangka panjang.
Disclaimer: Kabar Bitcoin menyajikan konten seputar aset kripto dan teknologi blockchain untuk tujuan informasi dan edukasi. Seluruh informasi yang dimuat bukan merupakan nasihat keuangan atau rekomendasi investasi dalam bentuk apa pun. Pembaca bertanggung jawab penuh atas setiap keputusan yang diambil. Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi dan volatilitas ekstrem. Kabar Bitcoin tidak bertanggung jawab atas kerugian atau konsekuensi apa pun yang timbul akibat penggunaan informasi yang tersedia di platform ini. Sebagian konten dapat memuat data, referensi, atau tautan dari pihak ketiga. Kabar Bitcoin tidak memiliki kendali atas akurasi, kebijakan, maupun isi dari sumber eksternal tersebut dan tidak bertanggung jawab atas dampak yang mungkin timbul dari penggunaannya. Dengan mengakses Kabar Bitcoin, Anda dianggap memahami dan menyetujui isi disclaimer ini.