
Pasar Bitcoin memasuki fase rapuh setelah gelombang penurunan tajam mendorong harga mendekati zona yang dianggap berisiko tinggi oleh pelaku pasar. Pada perdagangan Jumat, aset kripto terbesar ini sempat terkoreksi hingga 7,6% ke level $80.553, memperdalam koreksi bulanan yang kini mendekati 25%. Dengan performa tersebut, November berpotensi menjadi periode terburuk bagi Bitcoin sejak gejolak besar industri kripto pada 2022.
Pelemahan ini dipicu terutama oleh aksi jual di pasar spot, termasuk arus keluar dari ETF Bitcoin berskala besar, penjualan dari dompet lama yang sebelumnya tidak aktif, serta melemahnya minat trader berbasis momentum. Namun, faktor teknikal dari pasar opsi turut memperbesar fluktuasi harga, khususnya saat Bitcoin menembus level-level di mana pelaku pasar derivatif harus menyesuaikan strategi lindung nilai mereka.
Menurut analis, salah satu titik kritis berada di area $85.000. Level ini sebelumnya menjadi magnet bagi kontrak put, membuat penyedia likuiditas berada dalam posisi risiko yang memaksa mereka menjual Bitcoin tambahan ketika harga terus turun. Kondisi ini dikenal sebagai posisi “short gamma”, di mana penurunan justru memicu lebih banyak tekanan jual demi menjaga eksposur tetap seimbang.
Situasi berubah mendekati $80.000. Di zona ini, struktur posisi pasar beralih menjadi “long gamma”, yang berarti semakin rendah harga, semakin besar dorongan bagi market maker untuk membeli kembali Bitcoin sebagai bagian dari strategi penyeimbangan risiko. Pergeseran ini berpotensi meredam kejatuhan lebih lanjut, meski belum tentu cukup untuk membalikkan arah tren secara menyeluruh.
Data dari Deribit menunjukkan akumulasi kontrak put di sekitar dua level tersebut meningkatkan tekanan pada dealer yang menjual opsi tersebut. Meski kontribusi pasar opsi lebih bersifat mempercepat pergerakan, faktor ini menggarisbawahi kenyataan bahwa kedalaman pasar telah menyusut dalam beberapa pekan terakhir. Dengan likuiditas yang menipis, bahkan volume jual yang relatif biasa dapat mendorong harga turun lebih cepat dan lebih jauh dari biasanya.
Selain opsi, pasar futures perpetual juga menunjukkan tanda tekanan. Minat terbuka masih tinggi, namun banyak posisi long kini berada dalam kerugian, memicu gelombang likuidasi paksa yang memperparah arah penurunan. Upaya pelaku pasar untuk mencari pantulan di kisaran $98.000 sebelumnya gagal, dan pesanan beli yang menumpuk di area tersebut kini tertinggal jauh setelah harga menembus $85.000.
Arus keluar berkelanjutan dari ETF Bitcoin turut menghilangkan lapisan permintaan pasif yang sebelumnya membantu menstabilkan pergerakan harga. Tanpa dukungan pembelian rutin dari kanal tersebut, pasar menjadi jauh lebih sensitif terhadap tekanan jual jangka pendek.
Kombinasi lindung nilai derivatif, likuidasi otomatis, dan menyusutnya likuiditas menciptakan dinamika yang memperbesar volatilitas — sebuah pola yang juga lazim terjadi di pasar saham, obligasi, maupun komoditas saat tekanan dan manajemen risiko bertabrakan secara bersamaan.
Saat ini, perhatian pelaku pasar terfokus pada area $80.000 sebagai penentu arah berikutnya. Penembusan bersih di bawah level ini berpotensi memicu respons pembelian dari sisi teknikal, namun selama tekanan jual masih dominan, pemulihan yang terjadi diperkirakan bersifat terbatas dan rentan terkoreksi kembali.