Visa kembali memperluas jejak infrastruktur pembayaran terdesentralisasi. Perusahaan jaringan pembayaran global ini baru saja menandatangani Memorandum of Cooperation dengan ADI Foundation asal Abu Dhabi untuk mengeksplorasi penerapan teknologi blockchain ke sistem keuangan konvensional.
Kesepakatan ini mencakup tiga ranah pengembangan: solusi pembayaran digital, pembaruan infrastruktur transaksi, dan layanan keuangan mutakhir. Eksplorasi menyasar penciptaan mekanisme penyelesaian akhir yang lebih efisien. Namun, mereka menaruh satu syarat tegas: institusi yang kelak bergabung tidak diharuskan mengganti fondasi teknologi warisan yang sudah lama terpasang.
Menargetkan Satu Miliar Pengguna
ADI Foundation beroperasi sebagai entitas hukum berstatus yayasan buku besar terdistribusi (DLT). Mereka terdaftar resmi di Abu Dhabi Global Market dan tunduk pada aturan DLT Foundations Regulations 2023. Yayasan bentukan Sirius International Holding - anak perusahaan teknologi dari konglomerasi International Holding Company - ini memposisikan ADI Chain sebagai blockchain tingkat institusional.
Di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA), ADI Chain dirancang khusus untuk memfasilitasi transaksi stablecoin dan tokenisasi aset dunia nyata (RWA). Kolaborasi lintas benua ini sejalan dengan target jangka panjang ADI. Menjelang 2030, yayasan mematok sasaran untuk menyambungkan satu miliar orang dan institusi ke ekonomi digital. Sebagai fondasi, ADI turut merangkul barisan kolaborator papan atas yang memuat nama BlackRock, Mastercard, dan Franklin Templeton.
Apa yang Belum Diumumkan
Meski nota kerja sama sudah ditandatangani, detail teknisnya masih samar. Sampai saat ini, kedua belah pihak belum mengumumkan pilihan arsitektur blockchain, jenis stablecoin, maupun standar aset penyelesaian akhir yang akan diadopsi. Belum ada juga batas waktu pengujian atau target peluncuran yang dibagikan ke publik.
Uang Berpindah di Akhir Pekan
Bagi Visa, manuver di wilayah Arab ini menjadi tambahan baru di atas jaringan pembayaran mereka yang terus berputar. Infrastruktur perusahaan sekarang menopang penyelesaian transaksi berbasis stablecoin di lebih dari 160 program berbeda. Sepanjang tahun ini, volume transaksi stablecoin Visa naik sekitar 200%, dengan tingkat putaran uang tahunan (run rate) menyentuh angka $20 miliar.
Kapasitas penyelesaian non-stop teruji nyata dalam program percontohan baru-baru ini. Bank asal Inggris, Lloyds, menggunakan stablecoin USDC untuk menyetor kewajiban senilai $750.000 kepada Visa. Uji coba itu berlangsung seminggu penuh dan seluruh transaksinya tereksekusi pada hari Sabtu dan Minggu - melewati batasan jam operasional sistem bank biasa.
๐ Baca JugaDogecoin Buka Pintu Smart Contract Lewat Peluncuran DogecoinVM - Tapi Shiba Inu Pilih Manuver Berbeda ke Solana
Perluasan integrasi terus menjalar. Visa telah menggandeng Shinhan Financial Korea serta Dunamu untuk menguji aliran pembayaran stablecoin di Asia, disusul kerja sama bersama Brale dan Canton Network. Pemain kelembagaan pelan-pelan memindahkan lalu lintas uang ke jaringan blockchain publik, jauh sebelum sistem tradisional benar-benar tersisih.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Baca juga: 71% Petinggi Keuangan Inggris Yakin Tokenisasi Rombak Pasar - Lloyds Buktikan Pakai USDC
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




