Visa menanyai 14.250 orang berusia 18 hingga 65 tahun di 14 pasar Asia Pasifik pada rentang Juni sampai Juli 2026. Survei Visa Consumer 360 menemukan 46% responden berencana memakai stablecoin dalam lima tahun ke depan. Namun, antusiasme adopsi itu berjalan berdampingan dengan angka literasi finansial yang timpang.
Meskipun 66% responden menyatakan tahu soal keberadaan stablecoin, hanya 6% yang terbukti memiliki pemahaman akurat tentang cara kerjanya. Data lanjutan menunjukkan 41% responden keliru percaya bahwa nilai stablecoin selalu naik - asumsi yang justru membatalkan fungsi dasarnya sebagai penyimpan nilai yang dipatok ke mata uang fiat.
Jeda antara minat dan praktik juga terlihat dari catatan pemakaian riil: hanya 16% responden yang memakai stablecoin dalam 12 bulan terakhir.
Ketakutan Menjadi Penghalang Utama
Dari kelompok responden yang tahu soal stablecoin tapi belum mencobanya, 38% memilih tidak bertransaksi karena khawatir menjadi korban penipuan atau scam. Sisanya, sebanyak 36% responden mengaku tidak paham cara menggunakan teknologinya.
Tingkat kesadaran tertinggi tentang stablecoin terpusat di tiga wilayah. Hong Kong memimpin pada angka 84%, disusul India 80%, dan Thailand 77%. Untuk potensi penggunaan di masa depan, Vietnam dan India mencatat tingkat minat paling agresif. Sebanyak 67% responden di kedua negara itu bersiap memakai stablecoin dalam lima tahun mendatang.
Survei Visa turut menggarisbawahi fungsi transfer lintas negara sebagai daya tarik utama, di mana 49% responden meyakini stablecoin akan menjadi metode standar pengiriman uang antar negara dalam lima tahun ke depan.
Fokus Institusional Visa
Mengantisipasi pergerakan pasar, Visa meluncurkan Visa Stablecoin Platform pada bulan Juli. Layanan tingkat institusi ini memungkinkan entitas seperti bank, perusahaan fintech, dan bisnis kripto mencetak, menahan, mentransfer, serta menebus stablecoin mereka sendiri.
Infrastruktur baru itu mendorong kinerja pembayaran perusahaan, menaikkan volume transaksi kartu terhubung stablecoin hingga hampir 200% dari tahun ke tahun. Sepanjang tahun fiskal 2026, segmen bisnis dan komersial menyumbang 17% dari total volume kartu stablecoin perusahaan.
๐ Baca JugaEkonomi Kripto China Tembus $176 Miliar - Volume Dompet P2P Meroket 43 Kali Lipat di Tengah Blokir
Laju setelmen stablecoin Visa turut mencatat pertumbuhan pesat, menembus batas $20 miliar setahun berdasarkan perhitungan laju tahunan per bulan September.
Tugas Berat Edukasi Pasar
Pasar Asia Pasifik memiliki modal antusiasme kuat untuk beralih ke pembayaran kripto. Namun, selama masyarakat masih mengira stablecoin adalah aset spekulatif yang harganya bisa terus naik, ketakutan menjadi korban penipuan akan terus menahan mayoritas calon pengguna di batas pintu.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Baca juga: Circle Desak Eropa Rombak MiCA - Aturan Wajib Simpan Uang di Bank Justru Bikin Risiko Melonjak
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




