Pengadilan Rotterdam resmi menyatakan platform kripto Belanda, Knaken, bangkrut - setelah jaksa menuding sekitar 7 juta euro dana nasabah tidak bisa dipertanggungjawabkan alias hilang. Yang membuat kabar ini terasa dingin di tengkuk: sampai berita ini diturunkan, ke mana perginya uang sebanyak itu masih belum ada yang bisa menjelaskan.
Putusan pailit menyusul permintaan resmi dari Kejaksaan Penuntutan Umum Belanda pada akhir Juni 2026, setelah regulator lebih dulu mengangkat kekhawatiran soal kondisi perusahaan. Otoritas jasa keuangan Belanda (AFM) bahkan sempat memperingatkan jaksa mengenai “situasi yang sangat mengkhawatirkan” di tubuh Knaken.
Defisit Besar yang Tak Pernah Diberitahukan
Dalam putusannya, pengadilan menyebut Knaken menyimpan defisit besar yang tak pernah disampaikan kepada penggunanya. “Sejumlah besar uang nasabah telah hilang tanpa ada kejelasan bagaimana ini bisa terjadi,” bunyi pernyataan pengadilan seperti dikutip NL Times. Platform ini sendiri sudah offline sejak awal Juni 2026, membuat nasabah tak lagi bisa mengakses akun mereka lewat situsnya.
Knaken sempat melawan. Perusahaan berargumen masih ada langkah hukum lain yang bisa melindungi nasabah, menunjuk aset yang telah disita oleh dinas investigasi fiskal Belanda, dan mengusulkan pembagian dana langsung ke pengguna. Pengadilan menolak - dengan alasan Knaken dinilai tak punya cukup aset untuk membayar penuh nasabahnya.
Kolaps di Titik Balik Regulasi Eropa
Timing-nya sulit dianggap kebetulan. Kebangkrutan Knaken terjadi tak lama setelah Uni Eropa merampungkan transisi penuh ke kerangka regulasi MiCA (Markets in Crypto-Assets) pada 1 Juli 2026. Di bawah aturan baru itu, penyedia layanan kripto wajib mengantongi otorisasi regulator EU untuk terus beroperasi. Per 29 Juni 2026, EU sudah menerbitkan 244 lisensi MiCA.
📌 Baca JugaRaksasa Jepang SBI Diam-diam Kuasai Bursa Kripto Singapura - Ini Peta ‘Kerajaan Aset Digital’ yang Sedang Dibangunnya
Knaken tidak termasuk di dalamnya. Sementara perusahaan berlisensi seperti Coinbase dan Ripple justru memperluas jangkauan di Eropa, platform tanpa izin seperti Knaken harus memilih: tutup layanan atau kolaps. Investigasi kriminal terkait dugaan dana yang hilang pun masih berjalan.
Kini bola ada di tangan kurator pengadilan, yang bertugas menghitung berapa banyak uang dan kripto yang masih bisa dipulihkan untuk kreditur dan nasabah. Bagi pengguna yang uangnya nyangkut, jawabannya belum ada - dan itulah pengingat paling keras dari kasus ini: tanpa lisensi dan pengawasan, “aman” hanyalah kata sampai hari platform itu tiba-tiba gelap.
Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




