Sebuah grup keuangan raksasa dari Jepang baru saja menambah satu bidak penting ke papan caturnya di Asia Tenggara. SBI Holdings - firma sekuritas online dengan lebih dari 14 juta pengguna dan aset kustodian menembus $308 miliar - resmi menguasai saham mayoritas Coinhako, bursa kripto asal Singapura, setelah Monetary Authority of Singapore (MAS) menyetujui transaksi tersebut pada 16 Juli 2026.
Yang menarik bukan sekadar akuisisinya, melainkan apa yang sedang disusun SBI di baliknya: sebuah jaringan aset digital yang membentang lintas negara, mata uang, dan blockchain - dan Coinhako hanyalah satu simpul dari peta yang jauh lebih besar.
Akuisisi yang Diumumkan sejak Februari, Baru Rampung Sekarang
SBI sebenarnya sudah menyatakan niat mengakuisisi Coinhako sejak Februari 2026. Prosesnya baru tuntas sekarang setelah izin regulator turun. Transaksi digelar lewat SBI Ventures Asset Pte. Ltd. berupa suntikan modal, ditambah pembelian saham dari investor Coinhako yang sudah ada - menjadikan bursa itu anak usaha konsolidasi SBI. Menariknya, nilai transaksi, persentase saham, maupun valuasi Coinhako sama sekali tidak diungkap ke publik.
Coinhako sendiri bukan pemain kemarin sore. Berdiri sejak 2014 dan dioperasikan oleh Hako Technology Pte. Ltd., bursa ini mengantongi lisensi Major Payment Institution dari MAS, sementara afiliasinya Alpha Hako Ltd. terdaftar sebagai penyedia layanan aset virtual di British Virgin Islands.
Chairman sekaligus Presiden SBI, Yoshitaka Kitao, menyebut akuisisi ini bagian dari strategi menghubungkan bursa lintas negara agar investor bisa bertransaksi tanpa dibatasi perbatasan atau perbedaan mata uang. Dari sisi Coinhako, CEO dan co-founder Yusho Liu menyebut bergabung dengan SBI sebagai “langkah alami” setelah satu dekade beroperasi di Singapura.
Bukan Cuma Bursa - SBI Sedang Menguasai Seluruh Rantai Nilai
Di sinilah gambar besarnya terlihat. SBI berencana menggabungkan basis pelanggan dan jaringan regional Coinhako dengan stablecoin berbasis yen bernama JPYSC (dikembangkan bersama Startale Group), serta kemitraan tokenisasi bersama Ondo Finance untuk saham Jepang. Sehari sebelum akuisisi Coinhako rampung, SBI Global Asset Management bahkan sudah meluncurkan token JX - strategi ekuitas dividen tinggi Jepang - di jaringan Solana lewat DigiFT, membidik investor institusional.
Ekspansi ini juga disokong kemitraan baru dengan Solana Foundation, yang mengambil saham ekuitas di SBI R3 Japan. Entitas itu akan berganti nama menjadi SBI Solana Global dan fokus pada penerbitan stablecoin serta tokenisasi aset dunia nyata seperti obligasi korporat dan real estate.
📌 Baca JugaBursa Kripto Belanda Knaken Bangkrut, Rp Miliaran Setara 7 Juta Euro Dana Nasabah Raib Tanpa Kejelasan
Menurut Joseph Goh, direktur Asia Pacific di firma penasihat investasi kripto Areta, SBI adalah grup finansial pertama di Asia yang mengejar seluruh rantai nilai aset digital sekaligus - dari penerbitan, settlement, infrastruktur trading, manajemen aset, hingga distribusi ritel - lintas kawasan, bukan sekadar di dalam negeri. Menurutnya, “hadiah sesungguhnya” justru ada di sisi settlement onchain berbasis yen.
Ambisi Besar, tapi Ada Catatan Kaki yang Jujur
Di balik ambisi yang menjulang, SBI juga jujur soal keterbatasannya. JPYSC saat ini baru bisa dipakai di dalam akun SBI VC Trade dan belum mendukung penarikan ke wallet eksternal maupun settlement lewat blockchain publik - keterbatasan teknis yang diakui sendiri oleh juru bicara SBI. Artinya, visi “tanpa perbatasan” itu masih menyisakan pekerjaan rumah teknis yang tidak kecil.
Konteksnya makin terang kalau melihat manuver SBI bulan ini saja: memimpin pendanaan Seri C senilai $76 juta untuk bursa institusional EDX Markets, dan berencana mengakuisisi Bitbank senilai $289 juta untuk membangun salah satu bursa kripto terbesar di Jepang. Coinhako, dengan kata lain, adalah potongan Asia Tenggara dari teka-teki yang jauh lebih luas. Bagi investor di kawasan ini, yang layak diamati bukan seberapa besar satu akuisisi, melainkan seberapa cepat satu pemain tradisional keuangan bisa merangkai infrastruktur kripto ujung ke ujung - karena begitu jaringannya menyala, peta persaingan bursa Asia bisa berubah lebih cepat dari yang diperkirakan.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




