Bitcoin turun di bawah $64.000 pada 31 Juli 2026 seiring berlanjutnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan memuncak saat Iran menyerang dua tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz, padahal kedua kapal itu berada di bawah pengawalan militer AS. Teheran juga mengklaim telah menghalau empat kapal lain di perairan strategis yang sama.
Kehadiran eskort militer AS di lokasi membuat potensi serangan balasan langsung menjadi nyata, menempatkan insiden ini pada level risiko lebih tinggi dibanding serangan kapal komersial biasa. Iran juga melancarkan serangan drone ke fasilitas militer terkait AS di Kuwait dan Bahrain. Namun, Kuwait sukses mencegat drone yang mengarah ke wilayah mereka tanpa timbul korban jiwa.
Di ranah politik, Presiden Donald Trump langsung memanggil rapat kabinet di Camp David menimbang langkah AS berikutnya. Belum ada pengumuman operasi militer baru. Senat AS baru saja gagal meloloskan pemungutan suara 49-50 yang bertujuan membatasi wewenang Trump untuk meneruskan permusuhan. Di sisi lain, proposal blokade darat Iran oleh pasukan AS dan Israel masih bergulir di tahap diskusi dan belum jadi kebijakan resmi.
Gejolak geopolitik ini langsung merembet ke pasar finansial. Harga minyak mentah melonjak, dolar AS menguat, dan imbal hasil Treasury naik. Ketiga faktor ini menekan aset berisiko non-yield seperti Bitcoin.
Penjual Jangka Pendek Kembali Kendalikan Pasar
Efek peristiwa ini terlihat jelas di grafik harga. BTC merosot dan kehilangan dua batas pertahanan utamanya: Simple Moving Average (SMA) 7-hari di $63.445 dan SMA 25-hari di $64.488. Jatuhnya harga di bawah kedua indikator ini menegaskan penjual jangka pendek sudah mengambil alih kendali.
Sinyal pelemahan momentum muncul dari metrik teknikal lainnya. Aroon Down menyentuh 100%, berkebalikan dengan Aroon Up yang berada di 28,57%. Pada grafik 4-jam, dominasi jual terkonfirmasi lewat indikator MACD di posisi -229, di bawah sinyal line -109, ditambah histogram yang melebar ke -120.
Tekanan ini membawa Bitcoin menguji zona dukungan lebih rendah. Target terdekat berada di $62.000, mewakili neckline pola rounded-top. Formasi harga ini terbentuk sejak akhir Juni lalu, ketika BTC merangkak dari $59.000 menuju puncak $66.700 pada 22 Juli, lalu mencetak deretan harga puncak yang makin rendah.
📌 Baca JugaBlackRock Kuasai Mayoritas $233 Juta Arus Masuk Harian ETF Bitcoin - Kenapa Pasar Masih Gagal Rally?
Kapan Titik Balik Bisa Terjadi
Jika level $62.000 tembus, Bitcoin berpeluang turun lebih lanjut menuju $60.000. Dari sana, target objektif penuh dari pola rounded-top berada di angka $59.000.
Tapi sinyal pembalikan arah belum sirna. Indikator Stochastic RSI menunjukkan kondisi oversold di angka 12,29 dan 18,60. Kedua garis ini berada di bawah batas ambang 20, mencerminkan potensi reversal jangka pendek dalam waktu dekat.
Trader Ted Pillows memberi catatan serupa mengenai kluster likuiditas tersisa di area $62.000. Menurutnya, setelah kluster harga ini tersapu pergerakan pasar, peluang reversal akan terbuka. Bagi pelaku pasar, level $62.000 menjadi pijakan penentu sebelum memutuskan masuk kembali ke kripto atau menepi dari risiko konflik bersenjata.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu Bitcoin Halving?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




