Bank of Japan mengambil langkah besar-besaran dengan menjual dolar AS dan memborong yen. Keputusan ini diambil tepat setelah nilai tukar mata uang Jepang itu terperosok menyentuh titik terendah dalam 40 tahun terakhir. Di saat beriringan, pemerintah Korea Selatan juga menempuh intervensi mata uang yang tergolong langka dengan membuang dolar demi menopang won. Aksi jual dolar serentak oleh dua bank sentral Asia ini memperlihatkan tingginya tekanan pada indeks dolar (DXY).
Pergeseran valuta asing ini membuka babak perhitungan baru bagi pergerakan aset kripto. Dalam catatan historis, melemahnya dominasi dolar AS cenderung menghadirkan sentimen bullish untuk Bitcoin maupun pasar digital pada umumnya. Berada di kisaran harga $65.116, Bitcoin kini merespons tarik ulur antara menguatnya mata uang lokal Asia dan menurunnya daya cengkeram dolar di pasar.
Arus masuk dari investor institusional mulai menunjukkan pembalikan arah. Produk ETF Bitcoin spot mencatat aliran dana masuk harian sebanyak 585 BTC. Penambahan volume ini hadir menyeimbangkan pembukuan pekan sebelumnya, mengingat selama periode tujuh hari pasar mencetak arus keluar hingga minus 7.704 BTC.
Mengingat Kembali Jatuhnya Pasar Agustus 2024
Dari dua intervensi mata uang ini, langkah otoritas Jepang memegang bobot paling berat bagi likuiditas pasar aset berisiko. Bobot ini berkaitan erat dengan besarnya skala carry trade yen - praktik meminjam uang dengan bunga nyaris nol di Jepang untuk diinvestasikan pada aset berimbal hasil lebih tinggi di luar negeri.
Masalah timbul ketika Bank of Japan campur tangan dan nilai tukar yen tiba-tiba menguat. Kondisi ini mendongkrak biaya pengembalian pinjaman, memaksa institusi melakukan penutupan posisi atau unwinding secepat mungkin. Proses likuidasi berantai di berbagai kelas aset akibat unwinding carry trade yen inilah yang menjadi pemicu utama anjloknya pasar global pada Agustus 2024.
📌 Baca JugaGoogle Jamin Proyek Data Center Anthropic $15 Miliar di Texas - Kenapa Saham Penambang Bitcoin Pesta 30%?
Apakah Gelombang Likuidasi Akan Terulang?
Investor kini memantau ketat apakah penguatan yen kali ini bakal melahirkan efek domino serupa. Mereka mengukur kemungkinan terjadinya unwinding carry trade baru yang bisa merembet menguras likuiditas kripto global. Jika dolar melemah tanpa memicu kepanikan jual aset akibat yen, Bitcoin punya pijakan likuiditas untuk merangkak naik.
Namun bila institusi harus bergegas melepas aset demi mengamankan margin pinjaman mereka, imbasnya dipastikan ikut memukul harga Bitcoin. Meja valuta asing di Asia kini turut memegang kendali atas pergerakan likuiditas. Bagi para pemegang Bitcoin, dinamika mata uang di Tokyo dan Seoul beberapa minggu ke depan layak mendapat pengawasan penuh.
Dilansir dari @WatcherGuru di X.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




