Robinhood mengambil langkah baru dengan menaruh Bitcoin senilai $25 juta langsung ke dalam neraca perusahaan. SVP dan GM Crypto & Internasional Robinhood, Johann Kerbrat, mengumumkan masuknya aset perbendaharaan ini saat wawancara di acara Digital Asset Summit (DAS) Asia di Singapura.
Meski terlihat besar bagi investor ritel, nilai itu kecil untuk ukuran entitas publik sekelas mereka. Kerbrat mengakui alokasi modal kas ini tidak akan mengubah peta jalan bisnis inti Robinhood ke depan.
“Robinhood saat ini adalah perusahaan besar dengan kapitalisasi pasar di kisaran $100 miliar. Jadi Bitcoin senilai $25 juta tidak akan banyak mengubah arah perusahaan saat ini,” kata Kerbrat. Ia menyebut keputusan itu murni demi menyelaraskan visi mereka dengan komunitas kripto.
Berapa Porsinya Dibanding Pemain Publik Lain?
Pembelian $25 juta itu otomatis mencantumkan nama Robinhood ke daftar lebih dari 170 perusahaan publik yang mengonversi sebagian kas menjadi aset kripto. MicroStrategy memelopori tren perbendaharaan kripto sejak 2020 dan perlahan menjalar luas ke sektor industri lain.
Namun, nominal milik Robinhood masih terhitung kerdil bila membandingkannya dengan portofolio korporat lain. MicroStrategy saja sanggup membeli 334 BTC senilai $28,7 juta hanya dalam satu minggu terakhir. Perusahaan perangkat lunak itu kini menahan total 848.000 BTC.
Nama-nama besar lain juga terus menumpuk cadangan aset serupa. Tesla, Block, MARA Holdings, CleanSpark, dan Riot Platforms bersama-sama menguasai lebih dari 1,2 juta BTC dalam neraca keuangan mereka hari ini.
Ekspansi Lapisan Dua dan Kontrak Berjangka
Di balik langkah neraca keuangan yang simbolis, mesin operasi kripto Robinhood justru berputar kencang. Sepanjang Agustus, volume trading kripto notional di platform mereka menembus $17,5 miliar. Capaian itu naik 61% dari bulan Juli yang tertahan di level $10,9 miliar.
Basis pengguna berdana menopang langsung mulusnya aktivitas perdagangan itu. Robinhood kini melayani lebih dari 28 juta akun di seluruh dunia, terbagi atas 27 juta pelanggan wilayah Amerika Serikat dan 1 juta pengguna luar negeri.
Jangkauan infrastruktur mereka juga membesar ke jaringan lapis dua lewat Robinhood Chain. Jaringan L2 berbasis Arbitrum itu sudah memproses lebih dari $12 miliar volume bursa terdesentralisasi (DEX) dan memfasilitasi 150 juta transaksi hingga akhir Juli lalu.
๐ Baca JugaTrader Long Lenyap $487 Juta Saat Bitcoin Tembus Bawah $84.000 - Tapi 4 Wallet Baru Buka Short 40x Tepat Sebelum Jatuh
Fokus Robinhood kini beralih menyiapkan instrumen perdagangan tingkat lanjut. Perusahaan berencana menawarkan kontrak berjangka perpetual kepada pengguna di AS yang memenuhi syarat. Daftar koin fase awal mencakup BTC, ETH, SOL, XRP, DOGE, ADA, LINK, dan HYPE. Khusus transaksi Bitcoin dan Ethereum, trader mendapat fasilitas leverage hingga 10x, sementara Robinhood membatasi enam aset lainnya maksimal 3x.
Demi menarik minat pendaftar awal, manajemen memotong margin laba mereka. Robinhood mematok tarif trading perpetual futures di angka 0,01% dan berjanji mempertahankannya hingga penghujung 2026.
Nilai $25 juta di neraca mungkin sekadar noktah pemanis bagi korporasi bervaluasi ratusan miliar dolar. Tetapi lewat deretan produk turunan, lonjakan aktivitas pengguna, dan perluasan jaringan lapis dua, komitmen Robinhood menggarap pasar kripto membuktikan mereka siap bersaing di garis depan.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu Bitcoin Halving?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




