Baru sekitar satu bulan beroperasi sejak diluncurkan pada 1 Juli 2026, layer-2 Ethereum milik Robinhood langsung mencatat total value locked (TVL) hampir $800 juta. Dalam kurun waktu yang sama, Robinhood Chain juga memproses lebih dari 200 juta transaksi. Capaian awal ini didorong oleh pendekatan yang disebut Head of Crypto Robinhood, Johann Kerbrat, sebagai strategi “dua serigala” - sebuah upaya menyeimbangkan produk keuangan terstruktur dengan tren meme coin di dalam satu ekosistem.
CEO Robinhood Vlad Tenev menggunakan platform X untuk memposting metafora dua serigala ini sebagai penjelas arah platform mereka. Di satu sisi, Robinhood membangun infrastruktur untuk aset tradisional, sementara di sisi lain mereka merangkul tren koin lelucon pembawa likuiditas.
Kenapa Bertumpu pada Ethereum
Robinhood Chain memilih beroperasi sebagai jaringan layer-2 di atas Ethereum ketimbang membangun layer-1 mandiri. Kerbrat menjelaskan bahwa keputusan ini diambil demi efisiensi. Dengan menumpang pada Ethereum, Robinhood bisa langsung mengandalkan sistem keamanan dan desentralisasi yang sudah teruji. Pemilihan arsitektur ini memungkinkan tim pengembang memusatkan sumber daya teknis mereka semata-mata untuk membangun produk.
Fokus ini terlihat dari deretan utilitas awal yang ditawarkan. Jaringan ini memfasilitasi sekitar 200 saham tokenisasi yang membawa aset Wall Street ke ranah on-chain. Selain itu, mereka mendukung layanan pinjaman stablecoin dan perdagangan perpetual futures, melengkapi pilar serigala pertama yang berfokus pada instrumen keuangan berbobot.
Fungsi Meme Coin Menarik Pengguna
Lalu bagaimana dengan serigala kedua? Alih-alih menjauhi meme coin, Kerbrat menilai token jenis ini punya peran fungsional dalam ekosistem. Menurutnya, meme coin membawa likuiditas dan menarik minat pelanggan. Kehadiran token-token ini menjadi jalan untuk menggaet tipe pengguna DeFi yang biasanya menetap kuat dan susah dipindahkan dari platform asal mereka.
Meski memberi ruang untuk pemain DeFi lama, target utama Robinhood Chain tetap berbeda. Mereka ingin menjangkau orang-orang yang belum pernah memakai kripto sama sekali, bukan berebut pengguna dari blockchain lain. Kerbrat mematok tolok ukur adopsi yang jelas: melihat puluhan juta pelanggan ritel mereka mulai mencoba bertransaksi di atas jaringan ini adalah kemenangan besar bagi Robinhood.
📌 Baca JugaProposal Baru Ethereum Ancam Hapus Yield Staking - $35 Miliar Dana Terkunci Bersiap Eksodus
Pesaing Base yang Tak Perlu Koin Baru
Pertumbuhan Robinhood Chain dalam 30 hari pertama ini menarik perhatian pengamat industri. Pendiri Nansen, Alex Svanevik, menyebut jaringan ini berpotensi menjadi pesaing serius bagi Base, layer-2 besutan bursa saingan mereka, Coinbase.
Namun ada satu tebakan menarik yang dilontarkan Svanevik. Ia tidak yakin Robinhood akan menempuh jalur peluncuran token jaringan sendiri. Alasannya sepenuhnya soal hitung-hitungan bisnis: merilis token kripto berisiko menciptakan kompetisi langsung dengan saham perusahaan mereka sendiri, HOOD, di mata investor publik. Bagi para pemegang saham Robinhood, ketiadaan token ini justru bertindak sebagai pagar pengaman - memastikan nilai dan keuntungan platform tetap bermuara di lembar saham Wall Street, bukan terpecah ke pasar koin kripto.
Dilansir dari Decrypt.
Baca juga: Cara Kerja Staking Kripto dan Risikonya
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




