Bursa kripto BitMEX diam-diam mencari pembeli selama dua tahun terakhir sebelum akhirnya memutuskan tutup. Broadhaven Capital Partners, firma penasihat merger dan akuisisi, mendampingi proses ini sejak akhir 2024 untuk memburu target valuasi $1 miliar. Namun, perusahaan dompet kripto Exodus maupun bursa rival yang masuk daftar kandidat batal melempar tawaran resmi.
Kebuntuan ini membuat perusahaan induk HDR Global Trading mengambil jalan akhir: menutup BitMEX. Sesuai jadwal, platform ini masuk mode reduce-only mulai 26 Agustus 2026, melarang pengguna membuka posisi perdagangan baru. Operasional resmi kemudian berhenti total pada 23 September 2026, mengakhiri perjalanan bursa yang sudah beroperasi 11 tahun ini.
Hambatan di Balik Struktur Kepemilikan
Alasan utama kandasnya perundingan bukan cuma soal harga $1 miliar, melainkan kendala di struktur ekuitas. Para pendiri BitMEX - Arthur Hayes, Ben Delo, dan Samuel Reed - tercatat masih memegang porsi mayoritas ekuitas perusahaan. Ketiganya tidak lagi mengurus operasional harian sejak tersangkut dakwaan kriminal dari pemerintah Amerika Serikat pada 2020.
Penguasaan saham dominan di tangan ketiga orang ini membuat struktur insentif untuk proses akuisisi menjadi urusan yang pelik untuk diatur. Calon pembeli memilih mundur karena enggan menanggung kerumitan dari warisan kepemilikan ini. BitMEX kehabisan waktu dan pilihan setelah dua tahun menggelar negosiasi tanpa hasil pasti.
Tergilas oleh Produk Temuan Sendiri
Kematian BitMEX menggarisbawahi ironi di pasar kripto. Bursa inilah yang memopulerkan instrumen perpetual swap lewat peluncuran kontrak XBTUSD pada 2016. Namun, saat manajemen mereka sibuk merundingkan penjualan, aktivitas perdagangan justru terus merosot dan pangsa pasarnya direbut oleh pemain yang lebih segar pada produk yang sama.
Hyperliquid kini memimpin volume perdagangan instrumen perpetual ini. Sepanjang 2025, bursa derivatif itu mencetak volume nosional $2,6 triliun - hampir dua kali lipat di atas volume Coinbase yang tercatat $1,4 triliun menurut data Artemis. Aktivitas perdagangan di BitMEX luntur sementara bursa lain membesar menggunakan inovasi pelopor aslinya.
📌 Baca JugaRUU CLARITY Gagal Lolos Senat AS - Tapi CEO Coinbase Punya Mesin Uang $1,35 Miliar yang Jalan Terus
Jejak Kasus Hukum Belum Selesai
Meski Hayes, Delo, dan Reed sudah mengantongi pengampunan presiden pada 2025 setelah mengaku bersalah terkait pelanggaran Bank Secrecy Act, jejak hukum bursa ini belum sepenuhnya bersih. BitMEX masih menghadapi gugatan class action di Amerika Serikat soal kasus likuidasi paksa yang merugikan pelanggannya. Penggugat dalam perkara ini menuntut kompensasi 622,66 BTC ditambah pembayaran ganti rugi.
Akhir kisah pelopor bursa derivatif kripto ini bukan cuma diwarnai kekalahan pasar, melainkan setumpuk urusan pengadilan yang terus mengikuti walau operasional mereka bersiap untuk dihentikan.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




