Jaringan blockchain tidak pernah tidur, namun sistem keuangan tradisional yang menopangnya masih memiliki jam tutup kantor. Pendiri sekaligus CEO penyedia pembayaran TransFi, Raj Kamal, menyoroti bahwa ekspansi stablecoin yang dipatok ke mata uang lokal - seperti euro, poundsterling, maupun yen - membawa masalah baru. Kehadiran token-token baru itu memunculkan tantangan ketersediaan likuiditas valuta asing yang dituntut beroperasi 24 jam tanpa henti.
Kebutuhan konversi valas berantai terjadi hampir di setiap lapisan transaksi lintas negara. Lebih dari 70% arus uang masuk dari mata uang fiat menuju stablecoin dolar bermula dari mata uang selain dolar AS, menurut data yang dihimpun oleh TransFi. Alur panjang pergerakan uang ini menuntut eksekusi pertukaran valuta di berbagai titik sepanjang rantai transaksi. Hambatan utamanya baru muncul saat menghubungkan dunia kripto dan jadwal operasional pasar perbankan.
Risiko Biaya Hedging di Akhir Pekan
Meskipun penyelesaian transaksi token di atas blockchain berjalan penuh melintasi hari libur dan akhir pekan, likuiditas pasar valas bank konvensional justru menyusut drastis di luar jam kerja. Kesenjangan waktu operasional berimbas langsung pada perusahaan yang membutuhkan eksekusi transfer seketika di hari Minggu atau tengah malam.
Transaksi korporat yang dieksekusi di luar jam perdagangan aktif memaksa para penyedia likuiditas atau market maker menanggung risiko inventaris valuta asing yang jauh lebih besar. Untuk melindungi diri dari fluktuasi nilai tukar selama pasar utama tutup, para pelaku pasar ini menaikkan ongkos dengan memperlebar selisih harga jual-beli atau spread. Kamal memberi peringatan bahwa rel pembayaran kripto yang buka 24 jam akan kehilangan keunggulannya jika eksekusi penukaran bernilai besar di akhir pekan menjadi terlampau mahal akibat beban tambahan dari biaya lindung nilai atau hedging.
Dolar Tetap Menjadi Penengah Pertukaran
Ketatnya ketersediaan dana akhir pekan berakar dari struktur dasar pasar valas tradisional. Pasar valuta global mencatat volume transaksi harian rata-rata $9,6 triliun pada bulan April 2025, sebuah kenaikan 28% dibandingkan posisi $7,5 triliun pada tahun 2022 berdasarkan rilis data Bank of International Settlements (BIS). Meski nilai perputarannya besar, dana itu tetap terfragmentasi dan hanya menumpuk penuh pada jam-jam aktif sesi perbankan konvensional.
Dominasi mutlak dolar AS juga makin membatasi ruang gerak penyelesaian transaksi stablecoin lokal. Dolar AS menguasai 89% dari seluruh transaksi valuta asing konvensional di seluruh dunia. Dominasi serupa mengakar kuat di ranah kripto, dengan 99,4% stablecoin berbasis fiat dari segi total kapitalisasi pasarnya masih dipatok ke dolar AS berdasarkan pencatatan Laporan Ekonomi Tahunan BIS 2026.
๐ Baca Juga21 Bank Besar Patungan Bangun Stablecoin Dolar - Bukti Kripto Justru Makin Terikat Perbankan Lama
Dengan ketimpangan ketersediaan dana perbankan dan dominasi satu mata uang penengah, transaksi pertukaran antara dua stablecoin mata uang lokal kemungkinan besar harus terus melintasi perantara token dolar untuk mencari kolam likuiditas terdalam. Bagi korporasi yang perlu memutar kas lintas negara seketika di hari Minggu, titik hambatannya ternyata bukan pada kecepatan teknologi blockchain, melainkan pada jadwal bursa valuta tradisional yang belum siap mengikuti sistem 24 jam. Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Baca juga: 21 Bank Besar Patungan Bangun Stablecoin Dolar - Bukti Kripto Justru Makin Terikat Perbankan Lama
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




