Para pelaku mengembalikan 3.400 BTC senilai $269,2 juta ke dompet federasi Liquid Network tepat pada blok Bitcoin 965.950. Namun, kelompok yang mengklaim diri sebagai peretas topi putih ini masih menahan sisa 598,5 BTC - setara $47 juta - di alamat terkait penarikan tanpa memberikan klarifikasi kepada publik.
Insiden bermula pada hari Minggu ketika seorang nasabah memindahkan 4.000 L-BTC ke layanan peg-out SideSwap. Merespons pembobolan awal, tim Liquid menonaktifkan bridge node dan meminta pihak bursa menangguhkan layanan deposit serta withdrawal L-BTC selama masa investigasi. Perkembangan terbaru pengembalian dana parsial ini merevisi kabar sebelumnya yang mencatat kerugian eksploitasi mencapai $320 juta.
Keunikan resolusi kasus ini terletak pada proses tawar-menawarnya. Tim Blockstream dan pihak pelaku murni berkomunikasi melalui deretan pesan yang diselipkan pada transaksi on-chain Bitcoin.
Syarat Menambal Celah
Peretas menggunakan memo transaksi untuk mengajukan syarat mutlak sebelum menyerahkan dana klien. “Please fix the bug first… Then we will transfer the money back safely after confirming the fix,” tulis peretas, mendesak pengembang membereskan masalah keamanannya lebih dulu.
Blockstream merespons tuntutan itu dengan melayangkan pesan bertanda tangan kriptografis. “Bridge nodes are patched, safe to return the funds,” balas perusahaan. Beberapa saat setelah pernyataan keamanan itu tayang permanen di blockchain, pelaku memenuhi janjinya dan mengirim pulang porsi 3.400 BTC.
Perusahaan menegaskan bahwa seluruh kunci privat jaringan utuh dan tidak bocor ke pihak luar. Walaupun proses penambalan sudah diverifikasi di jaringan terbuka, tim internal Blockstream belum menerbitkan dokumen post-mortem teknis yang membedah titik kelemahan aslinya.
๐ Baca JugaHacker Coldcard Mulai Cuci $7,7 Juta Lewat CoinJoin - Tapi 82% Curian Masih Menganggur di Alamat Pertama
Batas Tipis Penyelamat dan Pemeras
Pangkal persoalan kini mengerucut pada absennya dokumen perjanjian formal antara dua belah pihak. Blockstream tidak pernah mengumumkan keberadaan program bounty publik yang membolehkan penemu bug mengklaim upah hingga hampir 600 BTC.
Keputusan peretas menahan aset tanpa dasar kontrak langsung memancing kritik tajam dari pakar industri. Chief Technology Officer Ledger, Charles Guillemet, terang-terangan menolak label topi putih yang disandang pelaku. “600 BTC masih dipegang. Kalau ini pernah berupa reward yang dinegosiasikan via kontrak terenkripsi on-chain, ini lebih mirip pemerasan daripada white-hat hacking,” paparnya.
Tindakan peretas membawa lari aset klien tanpa persetujuan mengaburkan klaim niat baik mereka dalam menyelamatkan ekosistem. Kepulangan porsi dana terbesar memang melegakan penyedia jaringan, tetapi raibnya $47 juta membuktikan bahwa negosiasi langsung dengan peretas tanpa hitam di atas putih rawan mengorbankan pengguna akhir. Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




