Setahun lalu, 100% volume perdagangan Bitget murni berasal dari aset kripto. Hari ini, CEO Bitget Gracy Chen mengungkap bahwa 28% volume platformnya datang dari perdagangan kontrak perpetual saham tradisional. Ini adalah fenomena reverse bridge: jika sebelumnya produk ETF bertugas membawa kripto ke Wall Street, kini bursa kripto yang menarik saham, indeks, dan komoditas masuk ke dalam ekosistem mereka melalui sarana perpetual futures (perps).
Angka pergeseran ini bukan sekadar tren sesaat di satu bursa, melainkan arah baru industri untuk menampung semua jenis aset finansial.
Lisensi Resmi dan Lonjakan Volume Kontrak
Laporan CoinGecko mencatat platform kripto telah mendaftarkan sekitar 360 aset keuangan tradisional pada periode Januari 2025 hingga Mei 2026. Dari jumlah itu, rata-rata bursa menawarkan 75 kontrak perps aset tradisional, jauh mengungguli daftar spot yang hanya berhenti di 37 aset. Hasil nyatanya terlihat pada volume perdagangan tokenized stock-perp yang naik dari $831 juta pada Juli 2025 menjadi $34 miliar pada Mei 2026. Angka ini memang masih di bawah 1% dari total volume saham aslinya, tetapi arus perpindahan modalnya makin kencang lewat langkah izin formal para pemain besar.
S&P Dow Jones Indices baru saja memberikan lisensi S&P 500 kepada platform Trade XYZ di blockchain Hyperliquid. Izin ini menjadikannya kontrak perps S&P 500 on-chain pertama yang resmi disetujui untuk pengguna di luar Amerika Serikat. Di Inggris, Coinbase juga mendapat lampu hijau dari lembaga FCA di bawah aturan MiFID, memungkinkan mereka menawarkan saham tradisional kepada investor ritel sekaligus kontrak perps kepada institusi. Sementara itu, Binance memilih jalur uji coba dengan mengizinkan klien kaya memakai posisi saham tokenisasi mereka sebagai jaminan saat memperdagangkan aset lain.
Untuk Siapa Jembatan Ini Dibangun?
Tujuan akhir rentetan ekspansi ini bermuara pada ambisi everything exchange - sebuah wadah di mana pengguna bisa bertransaksi kripto, saham, perps, hingga aset dunia nyata dalam satu akun. Daya tarik wadah hibrida ini memiliki dua wujud berbeda tergantung profil penggunanya. Bagi klien institusi, daya pikat utamanya bukan pada kemudahan akses. Mereka rata-rata sudah memiliki broker dan meja OTC sendiri, sehingga mereka beralih ke bursa kripto murni demi memangkas gesekan transaksi dan menyatukan portofolio.
Sebaliknya, bagi investor ritel di luar yurisdiksi Amerika Serikat, bursa kripto memberikan akses nyata yang selama ini terhalang batas negara. Melalui jalur ini, mereka akhirnya mendapat kebebasan memiliki eksposur langsung ke produk incaran Wall Street seperti saham Tesla atau indeks S&P 500.
📌 Baca JugaRobinhood Raup $156 Juta dari Pasar Prediksi - Kalahkan Bisnis Kripto Mereka Sendiri
Bagi trader eceran, akses 24 jam tanpa henti ini mengakhiri keharusan mereka memecah modal di berbagai aplikasi. Ketika instrumen konvensional memutar haluan dan ikut bersandar di bursa kripto, saham tak lagi mengenal bel penutupan pasar, dan satu-satunya kendali yang tersisa ada pada kedisiplinan trader menata risiko.
Dilansir dari CoinDesk.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




