Empat institusi keuangan paling dominan di Amerika Serikat tidak mau kehilangan kendali atas jalur pembayaran. JPMorgan Chase, Bank of America, Citigroup, dan Wells Fargo kini merancang jaringan deposit token bersama. Infrastruktur ini dioperasikan langsung di bawah The Clearing House, perusahaan pembayaran yang memang dimiliki oleh konsorsium bank-bank komersial besar.
Jaringan baru ini ditargetkan mampu memproses kliring dan penyelesaian transaksi selama 24 jam penuh. Idenya adalah menjembatani efisiensi teknologi blockchain dengan jalur pembayaran konvensional yang sudah ada. Langkah ini mendapat dukungan luas dari industri; lebih dari selusin institusi ikut merapat, termasuk nama besar seperti BNY, HSBC, PNC, Santander, TD Bank, Truist, dan U.S. Bank.
Kenapa Tidak Memakai Stablecoin Saja?
Pasar stablecoin hari ini sudah menyentuh sirkulasi sekitar $263 miliar - angka riil yang menggerus wilayah kekuasaan bank. Alih-alih mengadopsi stablecoin publik, bank memilih jalur deposit token. Bedanya ada pada status hukum dan posisi dana. Uang pada deposit token tetap tersimpan di dalam sistem perbankan berregulasi dan mendapat perlakuan hukum yang sama persis seperti deposit konvensional biasa.
Untuk tahap awal, jaringan ini belum menyentuh nasabah ritel. Target utamanya adalah perusahaan multinasional yang butuh memindahkan uang lintas negara dengan cepat. Kasus penggunaannya mencakup operasi treasury yang bisa diprogram, manajemen likuiditas real-time, pembayaran otomatis, dan transfer lintas batas. Sistem ini dijadwalkan meluncur pada paruh pertama 2027, walau belum ada tanggal pasti yang ditetapkan.
Pemain Lama dengan Skala Triliunan Dolar
Beberapa pendiri konsorsium ini sebenarnya sudah memanaskan mesin mereka sendiri. JPMorgan lewat jaringan Kinexys mencatat volume harian rata-rata di atas $7 miliar dan telah menangani total nilai lebih dari $40 triliun sejak rilis perdana. Citigroup juga tidak diam; Citi Token Services kini beroperasi aktif di empat pusat keuangan dunia: Amerika Serikat, Inggris, Singapura, dan Hong Kong.
Di luar urusan kode dan server, pertarungan bergulir di meja lobi politik. American Bankers Association bersama 76 asosiasi perbankan negara bagian mendesak Senat untuk memperketat aturan stablecoin di dalam draf CLARITY Act. CEO JPMorgan Jamie Dimon terang-terangan menentang klausul yang memperbolehkan stablecoin memberi imbal hasil, dengan alasan hal itu merugikan bank yang diikat banyak aturan hukum.
📌 Baca JugaPayPal Raup Pendapatan $8,68 Miliar di Q2 2026 - Tapi Untung Kripto $81 Juta Sengaja Tak Dihitung
Meski begitu, tidak semua bank sepakat. CEO Goldman Sachs David Solomon memilih langkah berbeda dari lobi perbankan. Ia justru mendukung laju CLARITY Act di parlemen meski menyadari RUU itu belum sempurna.
Uang sebesar $263 miliar yang mengalir di luar tembok perbankan memaksa pemain lama berbenah. Membangun infrastruktur tandingan kini menjadi cara utama bank mempertahankan kendali atas sistem keuangan. Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




