Minting NFT adalah proses menerbitkan atau menciptakan token digital unik baru di jaringan blockchain sehingga karya seni atau aset digital tersebut resmi terdaftar dan memiliki bukti kepemilikan yang tidak dapat dipalsukan. Proses ini mengubah berkas digital biasa menjadi aset kripto unik yang siap diperdagangkan atau dikoleksi secara global.
๐ Cara baca: min-ting รจn-รจf-ti
Penjelasan
Bayangkan kamu punya foto keluarga yang sangat berharga. Minting NFT itu seperti membawa foto tersebut ke kantor kelurahan untuk dibuatkan sertifikat kepemilikan resmi yang ditandatangani oleh pejabat setempat. Setelah sertifikat itu terbit, foto kamu tidak lagi sekadar gambar biasa di ponsel, melainkan barang koleksi resmi yang diakui secara sah bahwa kamulah pemilik tunggalnya.
Proses ini mengubah berkas digital biasa, seperti gambar, lagu, atau video, menjadi barang koleksi unik yang punya ‘akta kelahiran’ digital. Siapa pun bisa melihat atau menyalin fotonya, tapi hanya kamu yang memegang sertifikat asli kepemilikannya.
Secara teknis, minting NFT adalah proses menulis kode data khusus ke dalam smart contract (kontrak pintar) di blockchain. Saat proses minting selesai, aset digital tersebut akan memiliki identitas unik berupa token ID yang terhubung dengan alamat dompet digital penciptanya. Informasi ini bersifat permanen dan tidak dapat diubah oleh siapa pun, bahkan oleh pembuatnya sendiri.
Proses minting biasanya membutuhkan biaya jaringan yang disebut gas fee. Biaya ini digunakan untuk membayar daya komputasi para validator yang bekerja mencatat transaksi pembuatan NFT tersebut ke dalam database blockchain. Setelah berhasil dicetak, NFT tersebut dapat langsung dipajang di pasar digital (marketplace) untuk dijual atau dipindahkan ke dompet lain.
Di balik layar, proses minting memicu fungsi mint pada standar token seperti ERC-721 atau ERC-1155 di jaringan Ethereum. Fungsi ini menulis metadata NFT (seperti nama, deskripsi, dan tautan penyimpanan berkas menggunakan IPFS) ke dalam blockchain. Karena menyimpan berkas media berukuran besar langsung di blockchain sangat mahal, blockchain hanya menyimpan tautan metadata tersebut, sementara berkas gambarnya disimpan di protokol penyimpanan terdesentralisasi.
๐ฎ๐ฉ Konteks Indonesia
Di Indonesia, aktivitas pembuatan atau perdagangan NFT berkaitan erat dengan perkembangan aset digital yang diawasi di bawah transisi otoritas OJK/Bappebti. Saat melakukan minting atau transaksi NFT menggunakan aset kripto, masyarakat harus memahami bahwa kripto di Indonesia berstatus sebagai komoditi yang dapat diperdagangkan dan bukan merupakan alat pembayaran yang sah. Selain itu, setiap transaksi jual-beli kripto penunjangnya di exchange terdaftar juga akan dikenai pajak final sesuai aturan perpajakan yang berlaku.
Contoh
Bayangkan sebuah klub sepak bola yang menerbitkan tiket musiman fisik edisi khusus dengan nomor seri unik untuk para pendukung setianya. Proses mencetak tiket fisik tersebut dengan hologram antipalsu dan mendaftarkan nomor serinya ke buku besar klub adalah bentuk nyata dari minting. Tiket ini tidak bisa ditiru, membuktikan keaslian hak masuk stadion, dan setiap tiket memiliki nilai berbeda tergantung nomor serinya.
Apakah minting NFT selalu membutuhkan biaya?
Tidak selalu. Beberapa platform menyediakan fitur lazy minting, yaitu metode mencetak NFT secara gratis di awal, di mana biaya pembuatan baru akan dibebankan kepada pembeli saat NFT tersebut berhasil terjual.
Apa perbedaan antara minting NFT dan membelinya?
Minting adalah proses pertama kali menciptakan dan menerbitkan token baru di blockchain dari sebuah berkas digital. Sementara itu, membeli NFT adalah transaksi transfer kepemilikan NFT yang sudah ada dari satu pengguna ke pengguna lain.
๐ง Uji Paham
Istilah Terkait
Terakhir diperbarui 18 Juli 2026. Konten bersifat informatif/edukatif, bukan nasihat keuangan atau hukum - regulasi kripto bisa berubah, selalu verifikasi ke sumber resmi (OJK/Bappebti) untuk keputusan penting.




