Bencana tanah longsor akibat runtuhnya gletser menghantam wilayah pegunungan Nepal dan Tibet pada 26 Agustus. Ilmuwan menyebut peristiwa ini bermula dari lepasnya volume es skala besar yang membawa material batu, lumpur, dan puing-puing merangsek ke sistem sungai pegunungan. Angka korban jiwa menembus 750 orang per Minggu pagi, dengan lebih dari 3.000 warga berstatus hilang.
Data pencarian menunjukkan Nepal menerima dampak terberat dengan 734 korban meninggal dunia dan 2.498 orang masih dalam daftar pencarian. Di seberang perbatasan, tepatnya di Kabupaten Gyirong wilayah Tibet, otoritas menemukan 16 warganya tewas dan kehilangan kontak dengan 546 penduduk lain. Palang Merah merilis taksiran bahwa lebih dari 90.000 orang terdampak langsung oleh bencana ini. Puluhan ribu warga terisolasi akibat hancurnya akses jalan raya, jembatan, infrastruktur pasokan listrik, dan rata tanahnya puluhan wilayah permukiman.
Merespons rentetan data darurat, perusahaan pembayaran blockchain Ripple mengumumkan komitmen dana $300.000 pada 29 Agustus. Bantuan itu dibagi ke dua lembaga kemanusiaan utama yang sudah bekerja di lapangan. World Central Kitchen menerima tugas memasok makanan untuk warga di zona paling terdampak. Sementara itu, Mercy Corps mengambil alih kendali pengadaan air bersih, perbaikan darurat fasilitas sanitasi, dan koordinasi bantuan kemanusiaan harian.
Jejak Jaringan Kripto di Jalur Kemanusiaan
Kolaborasi antara penerbit aset kripto dan organisasi nirlaba itu bukan baru terjalin bulan ini. Ripple rutin mendanai operasi darurat World Central Kitchen sejak 2020. Pada waktu bersamaan, kemitraan mereka dengan Mercy Corps meliputi pengembangan proyek rintisan yang memadukan teknologi blockchain ke dalam sistem distribusi dana kemanusiaan.
Pada kasus sebelumnya, perusahaan mengeksekusi penyaluran bantuan untuk bencana kekeringan di negara Kenya dengan memanfaatkan jaringan stablecoin RLUSD. Distribusi uang berjalan otomatis menggunakan sistem smart contract. Laporan internal Ripple mendokumentasikan total dana donasi mereka telah melewati angka $200 juta untuk kurun waktu 2018 hingga akhir tahun 2024.
Detail Pengiriman yang Belum Terjawab
Meski jejak penerapan kripto sudah terekam di operasi sebelumnya, pihak Ripple belum merinci bentuk penyaluran dari janji dana untuk insiden longsor gletser ini. Belum ada konfirmasi apakah pengiriman donasi memakai keping XRP, stablecoin RLUSD, mata uang kripto alternatif, atau sekadar pengiriman valuta fiat standar ke rekening lembaga penerima.
๐ Baca JugaRipple Bajak Kepala Treasury LME Usai Mengabdi 10 Tahun - Bidik Dominasi Institusional $3 Triliun
Pemanfaatan aset kripto di jam-jam awal setelah bencana alam sering menghadapi kendala fisik lapangan. Putusnya jaringan listrik dan kabel komunikasi di sepanjang lembah terdampak memaksa relawan memprioritaskan pasokan logistik dasar pendukung nyawa dan mengesampingkan opsi uji coba transfer aset digital.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Baca juga: Bursa Kripto Bullish Buka Utang $100 Juta - GPU Nvidia Kini Berubah Jadi Agunan
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




