๐ Bagian dari: Stablecoin
Stablecoin Algoritmik adalah jenis mata uang kripto yang nilainya dijaga agar tetap stabil menggunakan kode pemrograman komputer dan insentif pasar otomatis, bukan dengan menyimpan cadangan uang tunai. Sistem pintar ini akan mengurangi atau menambah jumlah pasokan koin di pasar secara otomatis agar harganya selalu setara dengan aset acuan seperti dolar Amerika Serikat.
๐ Cara baca: ste-bel-koin al-go-rit-mik
Penjelasan
Bayangkan sebuah permainan jungkat-jungkit anak-anak yang dirancang khusus. Di salah satu ujung ada boneka, dan di ujung lainnya ada pemberat pasir otomatis. Jika boneka terasa terlalu ringan dan jungkat-jungkit miring, mesin akan otomatis menambah pasir ke ujung satunya agar posisinya kembali seimbang. Stablecoin algoritmik bekerja dengan cara yang mirip seperti mesin jungkat-jungkit otomatis ini.
Berbeda dengan stablecoin biasa seperti Tether (USDT) yang menyimpan uang dolar asli di dalam rekening bank sebagai jaminan, stablecoin jenis ini tidak memiliki jaminan uang fisik sama sekali. Nilainya murni dijaga oleh sistem komputer yang terus-menerus menyesuaikan jumlah koin yang beredar agar harganya tidak naik atau turun dari target satu dolar.
Stablecoin algoritmik menggunakan algoritma berbasis smart contract untuk mengelola hubungan antara pasokan koin dan permintaannya. Ketika harga koin naik di atas satu dolar karena tingginya permintaan, sistem akan mencetak koin baru untuk meningkatkan pasokan, sehingga harga kembali turun. Sebaliknya, jika harga turun di bawah satu dolar, sistem akan membeli atau memusnahkan sebagian koin dari peredaran agar harganya kembali naik.
Pembeda utama dari jenis ini dengan stablecoin terjamin fiat seperti USD Coin (USDC) adalah ketiadaan cadangan aset kolateral secara langsung di dunia nyata. USDC dijamin satu banding satu dengan uang fiat yang disimpan di bank kustodian. Sementara itu, stablecoin algoritmik mengandalkan teori permainan dan insentif bagi para pelaku pasar (arbitrase) untuk mempertahankan nilai koinnya.
Karena tidak bersandar pada aset fisik eksternal, stablecoin algoritmik rentan terhadap kegagalan sistematis yang dikenal sebagai spiral kematian. Jika kepercayaan pengguna hilang sepenuhnya secara mendadak, algoritma bisa gagal mempertahankan pasokan yang tepat, menyebabkan penurunan harga secara ekstrem dan tidak terkendali.
Dalam arsitekturnya, banyak stablecoin algoritmik menggunakan sistem dua token yang saling berpasangan untuk menyerap volatilitas harga. Ketika harga stablecoin turun di bawah satu dolar, pengguna dapat menukarkannya dengan token sekunder yang setara dengan nilai satu dolar (proses arbitrase) untuk mengurangi pasokan stablecoin dan mengembalikan pasak harga. Namun, mekanisme seigniorage ini sangat bergantung pada likuiditas token sekunder tersebut, dan jika nilai token pendukungnya anjlok drastis, pasak harga stablecoin tersebut akan rusak secara permanen.
๐ฎ๐ฉ Konteks Indonesia
Di Indonesia, stablecoin algoritmik dikategorikan sebagai komoditi yang dapat diperdagangkan di bursa kripto dan bukan merupakan alat pembayaran yang sah, karena Rupiah adalah satu-satunya alat pembayaran sah di tanah air. Setiap transaksi jual-beli stablecoin ini di exchange lokal yang terdaftar resmi sebagai Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK) tetap dikenai pajak final, serta aktivitas pengawasannya saat ini sedang berada dalam masa transisi dari Bappebti ke OJK.
Contoh
Bayangkan sebuah permainan kelompok di mana jumlah pemain harus selalu pas dengan jumlah kursi yang tersedia agar suasana tetap tenang. Setiap kali ada anak baru masuk (permintaan naik), panitia secara otomatis mengeluarkan kursi tambahan ke area bermain agar tidak ada yang berebut. Sebaliknya, jika ada anak yang keluar (permintaan turun), kursi akan langsung ditarik dari lapangan. Kursi-kursi ini muncul dan hilang murni berdasarkan aturan main yang disepakati, tanpa perlu ada gudang penyimpanan kursi cadangan di belakang panggung.
Apa perbedaan utama antara stablecoin algoritmik dengan Tether (USDT)?
Tether (USDT) memiliki jaminan uang dolar asli atau aset fisik di bank untuk mendukung setiap koin yang diterbitkan, sedangkan stablecoin algoritmik tidak didukung uang fisik dan nilainya murni dijaga oleh program komputer serta manipulasi pasokan otomatis.
Mengapa stablecoin algoritmik dianggap berisiko tinggi?
Jenis koin ini sangat berisiko karena stabilitasnya bergantung pada algoritma dan perilaku pasar. Jika terjadi kepanikan massal dan semua orang menjual koin secara bersamaan, algoritma bisa gagal menyeimbangkan harga, yang berujung pada hilangnya nilai koin secara permanen.
๐ง Uji Paham
Istilah Terkait
Terakhir diperbarui 18 Juli 2026. Konten bersifat informatif/edukatif, bukan nasihat keuangan atau hukum - regulasi kripto bisa berubah, selalu verifikasi ke sumber resmi (OJK/Bappebti) untuk keputusan penting.




