Grayscale Investments dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent turun tangan mendesak Senat untuk segera melakukan pemungutan suara atas CLARITY Act (H.R. 3633) sebelum reses Agustus. Bessent terang-terangan menyerukan voting sekarang juga dan menuduh senator Demokrat sengaja mengulur waktu akibat tekanan dari Senator Elizabeth Warren. Desakan ini sejalan dengan surat resmi Grayscale kepada para senator yang mengingatkan bahwa ratusan ribu warga Amerika kini memegang produk investasi aset digital mereka.
Namun, desakan keras dari luar gedung parlemen ini langsung membentur realitas jadwal di dalam Senat.
Ganjalan Etika dan Perebutan Waktu Sidang
Senator Cynthia Lummis mengakui bahwa meski pimpinan Senat masih berusaha membawa RUU ini ke lantai sidang, jadwal mereka sudah penuh sesak. RUU yang bertujuan membagi jelas batas tanggung jawab antara SEC dan CFTC ini harus bersaing memperebutkan alokasi waktu sidang dengan urusan nominasi, anggaran, dan kebijakan luar negeri.
Di luar masalah waktu, batu sandungan utamanya terletak pada negosiasi ketentuan etika terkait aktivitas aset digital pejabat federal. Saat ini Republikan memegang 53 kursi Senat, sehingga beleid ini masih butuh tambahan minimal 7 suara Demokrat untuk menembus ambang 60 suara. Sebagai acuan, versi DPR dari CLARITY Act sudah lolos lebih dulu pada Juli 2025 dengan selisih suara 294-134, mengantongi dukungan 78 legislator Demokrat.
Untuk memecah kebuntuan etika ini, Senator Thom Tillis dari kubu Republikan dan Ruben Gallego dari Demokrat menyodorkan jalan tengah. Proposal kompromi mereka mengusulkan agar otoritas negara bagian diizinkan ikut menegakkan pembatasan pada pejabat federal. Langkah ini diajukan untuk menggantikan draf sebelumnya yang hanya memberikan wewenang tunggal kepada Jaksa Agung AS.
📌 Baca JugaPeluang CLARITY Act Lolos Tinggal 25% di Polymarket - Padahal Menkeu dan Grayscale Kompak Mendesak Senat
Ancaman Eksodus ke Yurisdiksi Lain
Bagi pelaku industri, kerangka kerja CLARITY Act memiliki bobot lebih dari sekadar perapian aturan administratif. Grayscale menilai beleid ini mampu memperkuat perlindungan investor tanpa harus mencekik pengembang blockchain dengan aturan perantara keuangan konvensional. Mereka memperingatkan, membiarkan ketidakpastian ini berlarut sama saja dengan mendorong bisnis aset digital dan talenta teknologi untuk eksodus ke yurisdiksi yang lebih ramah seperti Singapura dan Abu Dhabi.
Sentimen publik menangkap tumpukan hambatan ini dengan pesimistis. Data taruhan di Polymarket menempatkan peluang RUU ini lolos sebelum reses Agustus hanya di kisaran 25-30%. Tenggat waktu makin sempit, dan industri kripto AS kembali dihadapkan pada rutinitas melelahkan: menunggu politisi berdebat, atau mulai mengepak koper mencari rumah baru.
Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




