Perusahaan infrastruktur pembayaran asal London, OpenPayd, menargetkan pencatatan saham di bursa Nasdaq sebelum akhir tahun 2026. Rencana pelataran publik ini ditempuh melalui jalur merger dengan Titan Acquisition Corp. Berdasarkan rincian kesepakatan yang sudah diumumkan ke publik, valuasi pro forma ekuitas OpenPayd diperkirakan menyentuh angka $1,1 miliar. Setelah proses merger selesai dan perusahaan resmi melantai di bursa, saham mereka akan langsung diperdagangkan dengan menggunakan ticker OP.
Catatan keuangan perusahaan memperlihatkan angka yang menarik di balik rencana ini. OpenPayd melaporkan kerugian bersih sebesar $2,8 juta, namun angka kerugian itu seluruhnya berasal dari pengeluaran biaya transaksi satu kali senilai $5,8 juta yang terikat dengan proses merger. Tanpa beban biaya satu kali itu, operasional inti mereka berdiri dalam posisi positif. Layanan utama OpenPayd bertumpu pada penyediaan kombinasi transaksi antara mata uang fiat dan stablecoin. Perusahaan mengklaim model bisnis hibrida ini belum memiliki pesaing setara di lantai bursa publik saat ini.
Amunisi Lengkap Sebelum April 2027
Rencana ekspansi OpenPayd sudah memiliki jadwal pasti. CEO Iana Dimitrova menyebut bahwa perusahaannya berencana meluncurkan layanan mereka penuh di daratan Amerika Serikat pada April 2027. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Pada bulan lalu, perusahaan memasukkan MSB USA Inc. ke dalam struktur grup mereka. Langkah akuisisi ini langsung memberi OpenPayd akses ke 43 lisensi money transmitter yang tersebar di 43 negara bagian AS.
Keberadaan puluhan lisensi hukum itu menjadi krusial setelah pengesahan GENIUS Act. Undang-undang baru itu menetapkan kerangka aturan tingkat federal yang jelas untuk penggunaan stablecoin sebagai alat pembayaran yang sah. Adanya regulasi yang terpusat ini membuka ruang gerak yang jauh lebih aman bagi perusahaan penyedia infrastruktur seperti OpenPayd untuk melayani klien institusional mereka.
Perusahaan juga terus menambah lapisan teknis pada sistem mereka. OpenPayd saat ini sudah mengintegrasikan Circle Payments Network ke dalam sistem operasi mereka khusus untuk melancarkan penyelesaian transaksi lintas batas. Di saat bersamaan, mereka juga telah bergabung dengan jaringan Fireblocks. Deretan infrastruktur inilah yang melayani daftar klien aktif mereka, yang saat ini mencakup nama-nama bursa besar seperti Kraken, B2C2, serta OKX.
Perbedaan Nyali di Lantai Bursa
Laju OpenPayd ke bursa saham memicu perlombaan baru di sektor infrastruktur pembayaran kripto. Rival terdekat mereka, RedotPay, diketahui juga sedang sibuk merampungkan persiapan penawaran saham perdana (IPO) mereka di pasar Amerika Serikat. Keduanya mencoba menangkap gelombang pertama permintaan pasar institusional atas jembatan penghubung antara sistem perbankan tradisional dan ekonomi stablecoin.
๐ Baca JugaInduk Kraken Jajaki Kemitraan Kripto Enam Lini dengan BNY Mellon - Berbekal Valuasi $21 Miliar Usai Disuntik Nasdaq
Menariknya, keberanian para penyedia infrastruktur ini belum menular ke klien mereka sendiri. Ketika OpenPayd memacu langkah menuju Nasdaq sebelum akhir 2026, induk perusahaan Kraken yaitu Payward mengambil keputusan sebaliknya. Mereka justru menunda rencana pencatatan sahamnya dan memundurkannya ke kuartal kedua tahun 2027. Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa menyediakan sekop untuk penambang sering kali menjadi bisnis yang lebih terukur ketimbang menambang emas itu sendiri.
Dilansir dari CoinDesk.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




