Firma keamanan siber Rapid7 baru saja membongkar operasi kampanye phishing kripto berskala luas yang diberi nama Operation Asterix. Kampanye ini menarget 885.000 nomor telepon korban dari berbagai negara. Menurut analis Rapid7, Anna Sirokova dan Jan Recinsky, pelaku mengelola basis data kompleks untuk menyimpan informasi pribadi para target. File terbesar di dalam basis data itu memuat 316.002 nomor telepon seluler milik warga Jerman. Direktori data lainnya mencakup daftar nomor dari Hong Kong, Bulgaria, Inggris, Amerika Serikat, sejumlah perusahaan fintech Kanada, hingga daftar kontak yang khusus terkait dengan para pengguna dompet kripto Ledger.
Semua data ini tidak dibiarkan diam; penyerang aktif memanfaatkannya sebagai bahan baku penyaringan identitas di dunia maya.
Bagaimana AI Mempercepat Perburuan Korban
Proses pemilihan target dalam Operation Asterix punya arah yang jelas. Dalam kasus dataset Jerman, pelaku mencocokkan 43.066 akun dengan profil pengguna bursa kripto - menunjukkan tingkat keberhasilan pencocokan atau hit rate 13,6 persen. Identifikasi ini berjalan cepat karena penyerang mengerahkan perangkat kecerdasan buatan (AI) sebagai komponen operasional utama. Mereka juga memakai alat pemeriksa otomatis atau checker yang dirancang khusus untuk platform Kraken demi memvalidasi nomor telepon dalam skala besar.
Begitu identitas kripto korban terverifikasi, nomor telepon itu langsung masuk ke radar serangan. Temuan log Rapid7 mencatat 5.576 akun telah dicocokkan spesifik dengan pengguna aktif Binance. Ribuan akun ini resmi masuk ke dalam antrean target eksekusi pelaku. Di luar serangan telepon, penyerang juga memperlebar jaring mereka melalui distribusi email palsu yang menyamar sebagai layanan resmi bursa Crypto.com.
Mencuri Seed Phrase Lewat Antarmuka Tiruan
Setelah target masuk dalam daftar antrean, pelaku mulai melancarkan rekayasa sosial. Mereka menghubungi calon korban melalui email dukungan pelanggan dan panggilan telepon palsu yang dirancang tampak resmi. Melalui komunikasi ini, penyerang membangun narasi yang mengarahkan korban untuk segera mengunduh perangkat lunak keamanan tambahan.
Kenyataannya, perangkat lunak itu adalah jebakan. Aplikasi bodong ini menyalin persis tampilan antarmuka asli dari berbagai dompet kripto populer, termasuk Ledger, Trezor, dan Exodus. Begitu korban mengetikkan seed phrase mereka di kolom aplikasi palsu ini, kendali atas aset mereka berpindah ke tangan pelaku dalam hitungan detik.
๐ Baca JugaKorban Kehilangan 1.010 ETH Cuma dari Klik Bookmark Lama - Begini Taktik Hacker Menyusup ke Domain Tornado Cash
Aliran data pengguna yang bocor memang sering menjadi pijakan awal kampanye phishing semacam ini. Sebagai gambaran, produsen perangkat dompet Trezor sebelumnya melaporkan insiden kebocoran data yang mengekspos informasi 14.000 pengguna. Kebocoran ini bersumber dari celah pada penyedia layanan pengiriman pihak ketiga, ShipMonk.
Insiden berantai seperti ini memberikan dampak nyata bagi industri. Merujuk pada laporan keamanan dari Hacken, serangan berbasis phishing dan rekayasa sosial mendominasi akar penyebab kerugian aset digital sepanjang kuartal pertama tahun ini. Angkanya menembus 306 juta dolar AS, menyumbang porsi mayoritas dari total kerugian kripto global yang menyentuh angka 482 juta dolar AS.
Bagi Anda yang menyimpan kripto di dompet mandiri, taktik Asterix ini menegaskan satu prosedur baku. Setiap instruksi melalui panggilan telepon yang mendesak Anda memasukkan frasa pemulihan ke tautan baru, bukanlah prosedur bursa - di sanalah perampasan aset Anda dimulai.
Dilansir dari Cointelegraph.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




