Jejak ekspansi Ripple di Asia Timur kian nyata. Pada 18 Agustus 2026, Ripple mengumumkan kemitraan dengan Jeonbuk Bank - institusi keuangan yang bernaung di bawah payung JB Financial Group dan berbasis di Provinsi Jeolla Utara. Kesepakatan ini mencatatkan Jeonbuk sebagai bank regional Korea Selatan pertama yang mengadopsi layanan Ripple Payments untuk urusan bisnis remitansi lintas batas.
Layanan baru ini menjanjikan penyelesaian transaksi internasional dalam hitungan detik hingga menit. Berbeda dari sistem pengiriman uang tradisional, infrastruktur ini beroperasi penuh 24 jam sehari tanpa terikat batas waktu jam kerja bank lokal. Target pengguna yang diincar mencakup kelompok importir, eksportir, perusahaan perintis teknologi, hingga para pembuat konten online yang rutin berurusan dengan pembayaran antarnegara.
Presiden Jeonbuk Bank Park Choon-won langsung menaruh harapan besar pada integrasi sistem ini. Ia menyebut kerja sama dengan Ripple akan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi kelangsungan bisnis banknya ke depan.
Ketiga Kalinya Sepanjang Tahun Ini
Langkah Jeonbuk Bank memperpanjang daftar klien Ripple di negeri gingseng. Ini adalah kemitraan ketiga Ripple dengan pihak institusi keuangan Korea Selatan sepanjang tahun 2026. Sebelum perjanjian baru ini, Ripple sudah menggandeng Kyobo Life Insurance untuk mengurus penyelesaian obligasi pemerintah yang ditokenisasi. Tidak lama setelahnya, Kbank juga masuk ke dalam jaringan untuk mengembangkan infrastruktur dompet tingkat institusional.
Managing Director Ripple Asia Pacific Fiona Murray menyatakan rentetan kesepakatan ini mencerminkan naiknya minat dari lembaga-lembaga keuangan Korea. Sampai saat ini, layanan Ripple Payments tercatat sudah beroperasi di lebih dari 60 pasar. Perusahaan itu mengklaim total volume transaksi mereka telah melampaui angka $100 miliar sejak awal diluncurkan - sebuah catatan agregat global, bukan data khusus untuk operasional Jeonbuk.
Apa yang Belum Kita Ketahui
Meski menawarkan kecepatan penyelesaian remitansi, pengumuman kerja sama ini justru membiarkan detail teknis paling krusial menggantung. Baik Ripple maupun Jeonbuk Bank sama sekali tidak merinci aset apa yang bakal dipakai untuk menjalankan penyelesaian akhir tiap transaksi. Publik belum tahu apakah kemitraan ini akan mengalirkan dana melalui token bawaan XRP, memutar stablecoin RLUSD, atau hanya sekadar memindahkan mata uang fiat di atas lapisan infrastruktur baru mereka.
๐ Baca JugaXRP Nyaris Jebol ke Bawah $1 Setelah 635 Hari - Kini Death Cross Harian Mengintai
Keheningan ini tidak berhenti di situ. Beberapa rincian operasional terkait koridor pembayaran spesifik, daftar mata uang yang didukung, target volume awal, sampai struktur biaya yang dikenakan kepada para nasabah juga belum diungkapkan ke publik.
Ekspansi Ripple lewat perbankan regional memang membuka jalur adopsi riil ke daerah yang sebelumnya tak tersentuh. Tapi selama kejelasan aset penyelesaiannya tidak dijawab, nilai sesungguhnya bagi ekosistem kripto lokal hanya sebatas narasi pemasaran di atas kertas. Dilansir dari Cointelegraph.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




