Marc van der Chijs, salah satu pendiri perusahaan penambang Bitcoin Hut 8, mengubah arah alokasi aset pribadinya. Setelah sempat menjual sebagian besar simpanan Bitcoin miliknya demi berinvestasi penuh ke sektor kecerdasan buatan (AI), ia kini memutuskan putar balik. Van der Chijs mulai menarik sebagian keuntungannya dari pengembangan AI dan memindahkannya kembali ke dalam berbagai aset kripto.
Manuver perpindahan dana ini didorong oleh kekhawatiran terkait perkembangan teknologi yang kian cepat. Ia menyuarakan kekhawatiran mendalam bahwa laju inovasi kecerdasan buatan saat ini perlahan mulai lepas dari kendali manusia, dan bersiap memicu guncangan sistemik pada berbagai infrastruktur kunci.
Apa yang disuarakan oleh Van der Chijs sejalan dengan peringatan yang pernah dilontarkan oleh CEO Anthropic, Dario Amodei. Amodei sebelumnya menyoroti tingginya risiko model AI masa depan yang mampu meningkatkan kapasitasnya sendiri lewat proses rekursif, hingga akhirnya mencapai titik kecerdasan yang melampaui kemampuan pengawasan dan kendali pembuatnya.
Ancaman pada Perangkat Lunak Bank Warisan
Faktor utama yang mempercepat risiko eksploitasi ini adalah iklim kompetisi global. Van der Chijs menyoroti kondisi persaingan yang ketat antar-perusahaan teknologi dan antar-negara. Dalam situasi perlombaan ini, pihak mana pun yang memilih menahan diri demi mengutamakan keamanan justru akan dihukum oleh pasar. Pola kompetisi tanpa rem ini memicu potensi gangguan sistemik jauh sebelum komunitas global sempat merumuskan regulasi internasional.
Salah satu titik buta paling rentan berada pada sistem keuangan tradisional. Ia memperingatkan bahwa AI tingkat lanjut dapat mengeksploitasi berbagai celah kerentanan yang masih tertanam dalam perangkat lunak perbankan warisan atau legacy banking. Banyak infrastruktur keuangan beroperasi di atas kode usang, sehingga peretasan otomatis berpotensi mengancam langsung stabilitas operasi berbagai institusi keuangan.
Ujian Keamanan Ekosistem Kripto
Ketakutan akan eksploitasi keamanan ini juga membayangi industri aset digital. Di dalam ekosistem kripto, Van der Chijs membuat batasan jelas soal pihak mana yang paling terancam. Ia menilai platform bursa perdagangan dan berbagai entitas bisnis yang beroperasi di sekitar ekosistem Bitcoin memiliki tingkat kerentanan jauh lebih tinggi terhadap peretasan AI, jika dibandingkan dengan ketahanan jaringan blockchain dasar Bitcoin itu sendiri.
๐ Baca JugaS&P Global dan Nasdaq Suntik Kaiko $110 Juta - Data Kripto Kini Diakui Sebagai Infrastruktur Institusi
Di balik peringatan panjang soal disrupsi perbankan, proyeksi akhirnya tetap berpijak pada perubahan menyeluruh struktur ekonomi masa depan. Van der Chijs memproyeksikan perpaduan antara kemajuan AI dan robotika berpotensi menggantikan 90% hingga 95% pekerjaan yang kini ditangani manusia, sebuah pergeseran yang pada akhirnya akan menekan drastis biaya produksi ragam barang dan jasa.
Dilansir dari CoinDesk.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




