Para analis Wall Street mulai membalikkan pandangan mereka. Lewat catatan riset tertanggal 1 Oktober 2026, Citigroup resmi menaikkan target harga 12 bulan untuk dua aset kripto terbesar: Bitcoin naik dari $82.000 menjadi $113.000, sementara Ethereum dikerek dari $2.240 menuju $3.028.
Target baru itu mewakili kenaikan sekitar 35% dari proyeksi Citi sebelumnya. Revisi naik diambil setelah bank tersebut memangkas target dari level awal 2026 yang sempat berada di $143.000 untuk BTC dan $4.304 untuk ETH. Saat riset dirilis, data CoinGecko mencatat Bitcoin diperdagangkan di sekitar $83.900 dan Ethereum di level $2.700.
Mesin ETF Kembali Memanas
Defisit miliaran dolar baru saja terhapus dari neraca. Per 13 Juli lalu, ETF Bitcoin spot AS menanggung arus keluar bersih $5,8 miliar untuk tahun 2026. Angka minus itu kini berbalik menjadi surplus $800 juta year-to-date pada penutupan September.
Arus masuk memuncak pada pekan 21-25 September, saat produk ETF mencatat lima sesi positif berturut-turut dan menarik dana masuk total $2,39 miliar. Pemulihan selera institusi berkaitan erat dengan manuver makro ekonomi, spesifiknya ketika Treasury AS mengumumkan pembelian kembali obligasi jangka panjang pada bulan Agustus. Kebijakan itu melemahkan dolar dan seketika menyedot dana $5,3 miliar ke dalam instrumen ETF Bitcoin.
Bursa obligasi nasional AS memang sedang menghangat. Yield surat utang 10-tahun AS sempat menyentuh titik tertinggi 24 tahun di 5,362% sebelum turun sedikit ke 5,282%. Citi meramalkan laju aliran dana kripto akan berjalan lebih lambat namun stabil ke depan, dengan estimasi uang segar senilai $5 miliar masuk selama 12 bulan berikutnya.
Harga Melawan Sentimen Politik
Arus modal institusi berbanding lurus dengan kinerja harga aset. Sepanjang kuartal ketiga (Q3) 2026, Bitcoin membukukan kenaikan 42,7% - rapor kuartalan terkuat sejak Q1 2024 yang saat itu melesat 68,7%. Ethereum ikut melambung 70,8%, mencetak lonjakan terbaiknya sejak kuartal pertama tahun 2021 yang pernah menyentuh 160,7%.
Pola kenaikan harga tetap bertahan kendati industri kripto baru menelan kekalahan politik. RUU Clarity Act kandas di Senat AS pada 15 September usai hanya mengamankan 49 suara dukungan berbanding 50 penolakan - gagal menembus batas minimum 60 suara untuk memulai debat formal. Citi menyebut kegagalan itu memang mempersempit jalan undang-undang struktur pasar kripto, tetapi pengumuman aturan regulator SEC yang menyusul kemudian efektif meredam sentimen negatif.
๐ Baca JugaIndia Tarik Inflow CEX $88,4 Miliar - Tapi Ekonomi Kripto Negaranya Justru Susut 14,7%
Pasar justru merespons dinamika regulasi dengan akumulasi beli. Harga Bitcoin tercatat naik lebih dari 10% pada akhir September pasca pemungutan suara Senat. Lonjakan sebesar 40% untuk Bitcoin dan 68% untuk Ethereum dalam tiga bulan terakhir sanggup memangkas angka kerugian year-to-date (ytd) hingga menyisakan minus 4% dan 9% saja.
Bagi pelaku pasar yang memburu puncak rekor, ruang mendaki masih terbuka. Walau terkerek 35%, target baru $113.000 rancangan analis Citi masih bertengger sekitar 10% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) Bitcoin senilai $126.200 yang tercipta pada Oktober 2025 lalu.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Baca juga: 51.600 Alamat Pindahkan Altcoin ke Bursa - Sinyal Jual Terkuat Sejak Puncak Bitcoin 2025
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




