Geng kriminal membobol lebih dari 1.500 mesin ATM di Amerika Serikat sepanjang beberapa tahun terakhir, memicu kerugian hingga $40,73 juta per Agustus 2025. Para pelaku mengeksploitasi kerentanan perangkat dan memasang malware khusus. Praktik yang dikenal dengan sebutan ATM jackpotting ini memaksa mesin mengeluarkan uang tunai tanpa mendebit rekening bank mana pun.
Departemen Keuangan AS (OFAC) mengaitkan operasi peretasan ini dengan geng kriminal Tren de Aragua. Pelacakan aliran uang membawa otoritas ke jaringan kripto, berujung pada penjatuhan sanksi terhadap tujuh alamat TRON. Menurut laporan TRM Labs, ketujuh dompet digital itu mencatat aliran dana masuk senilai total $6,1 juta sejak Maret 2022. Firma analitik ini memberi catatan bahwa tidak seluruh dana itu murni hasil kejahatan mesin ATM.
Bukan Dompet Pribadi, Melainkan Titipan di Bursa
Seluruh alamat TRON yang masuk daftar hitam OFAC bukanlah dompet kustodian mandiri (self-custody). Ketujuh alamat berstatus dompet deposit yang bertumpu pada infrastruktur bursa kripto terpusat. Dompet penampung terbesar tercatat atas nama Eric Gabriel Cardenas Arzola, yang menerima arus kas masuk sebesar $2,1 juta.
Para pelaku memindahkan dana kripto dari tujuh alamat awal menuju dompet-dompet lain yang masih berafiliasi dengan Tren de Aragua. Rantai transaksi berlanjut ketika uang sekitar $35 juta mengalir ke sebuah jaringan yang terhubung dengan Jorge Figueira. Aparat penegak hukum telah mendakwa Figueira dengan tuduhan mencuci dana ilegal senilai $1 miliar, walaupun tudingan ini belum dibuktikan di hadapan pengadilan.
Di luar tujuh dompet TRON, OFAC menjatuhkan sanksi kepada delapan individu dan dua entitas perusahaan yang beroperasi di Meksiko. Sasaran utamanya mengarah pada Anibal Alexander Canelon Aguirre yang memakai nama alias ‘Prometheus’. Ia diduga kuat sebagai perancang malware peretas ATM.
Penindakan Berantai Lintas Lembaga
Sejak 21 Oktober 2025, Departemen Kehakiman AS (DOJ) mendakwa 98 orang atas berbagai peran mereka dalam skema jackpotting. Penelusuran pada jaringan blockchain memberikan pintu masuk bagi penegak hukum untuk memburu aktor-aktor penyokong kejahatan ini.
Tindakan pemblokiran aset ilegal bukan hal baru di ekosistem TRON. Pada September lalu, penerbit stablecoin Tether membekukan kepemilikan USDT senilai $39,3 juta di sepuluh alamat TRON. Kesepuluh alamat itu teridentifikasi sebagai bagian dari jaringan Xinbi Guarantee.
๐ Baca JugaPeretas Kripto Kuras $768 Juta Selama September 2026 - Satu Celah Zero-Day Menyumbang Separuh Kerugian
Merespons rilis OFAC, firma analitik TRM Labs meminta penyedia layanan aset virtual (VASP) beserta institusi keuangan tradisional untuk segera memfilter tujuh alamat TRON baru ini. Penyedia layanan juga wajib memeriksa riwayat transaksi guna mendeteksi masuknya aset ilegal ke dalam sistem mereka.
Uang tunai hasil retasan memang lenyap dari radar begitu keluar dari mesin ATM, tetapi pencuciannya lewat blockchain menyediakan rekam jejak yang menetap bagi penegak hukum. Kasus geng Tren de Aragua membuktikan bahwa buku besar publik mencatat seluruh pergerakan uang pelaku kriminal.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Peretas Bitget Timbun Curian di Pool Privat Zcash - NEAR Blokir $50 Juta, THORChain Lepas Tangan
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




