Selama bertahun-tahun, tokenisasi aset kerap disebut sebagai proyek eksperimen yang menarik tapi belum matang. Survei baru dari penyedia teknologi finansial Broadridge menunjukkan cerita itu sudah berubah: 84% dari 200 eksekutif lembaga keuangan Amerika Utara yang disurvei kini menyebut tokenisasi sebagai prioritas strategis bagi bisnis mereka. Angka setinggi itu menandakan industri sudah melewati fase coba-coba dan mulai bersiap masuk era di mana aset tokenized jadi bagian rutin infrastruktur pasar.
Tokenisasi sendiri adalah proses merepresentasikan kepemilikan aset dunia nyata - saham, obligasi, dana, hingga properti - sebagai token digital di blockchain. Klaimnya menggiurkan: settlement lebih cepat, biaya operasional turun, aset bisa diperdagangkan 24 jam, dan kepemilikan bisa dipecah jadi bagian-bagian kecil.
Dari Uji Coba ke Transaksi Sungguhan
Lonjakan minat dalam dua tahun terakhir sejalan dengan gerakan para raksasa keuangan. BlackRock kini punya dana Treasury tokenized yang menjadi salah satu dana berbasis blockchain terbesar. Franklin Templeton menjalankan dana pasar uang tokenized. JPMorgan memperluas settlement berbasis blockchain lewat platform Kinexys, sementara Visa dan DTCC membangun infrastruktur untuk pembayaran dan sekuritas tokenized.
Titik baliknya terasa nyata pada Rabu 16 Juli 2026, ketika DTCC menyelesaikan transaksi produksi langsung pertamanya yang melibatkan sekuritas tokenized - sebuah langkah besar yang membawa teknologi blockchain masuk ke jantung pasar keuangan tradisional. Dalam survei, 68% responden meyakini tokenisasi akan setidaknya sebagian mengubah bentuk pasar keuangan dalam 3-5 tahun ke depan, dan hampir sepertiga berencana menaikkan investasi proyek ini sebesar 26%-50% atau lebih dalam dua tahun.
Bukan Merobohkan, Tapi Menyambung
Menariknya, antusiasme ini tidak berarti industri hendak membakar sistem lama. Sebanyak 92% firma justru tidak menyiapkan diri untuk masa depan yang ‘sepenuhnya on-chain’ - mereka memperkirakan aset digital dan tradisional akan hidup berdampingan untuk waktu yang lama. Sejalan dengan itu, 69% berencana mengintegrasikan tokenisasi ke infrastruktur yang sudah ada, bukan membangun sistem blockchain-native yang terpisah.
📌 Baca JugaFirma Wall Street Kini Bayar Demi Baca Postingan Trump Sedetik Lebih Cepat - Ini yang Dijual Trump Media
Adopsinya pun belum merata. Sebanyak 44% firma pasar modal sudah punya inisiatif tokenisasi yang berjalan penuh, jauh di atas manajer aset (20%) dan manajer kekayaan (9%). Sekitar 80% responden yakin dana pasar uang dan reksa dana tokenized akan berperan penting dalam lima tahun ke depan, sementara hanya sekitar separuh yang menaruh ekspektasi setara pada saham tokenized.
Rem yang Masih Menahan
Di balik optimisme itu, industri masih menyimpan pekerjaan rumah. Tantangan yang paling sering disebut responden adalah ketidakpastian regulasi, diikuti kompleksitas operasional dalam menyambungkan blockchain ke sistem keuangan yang sudah mapan. Artinya, meski arah anginnya jelas menuju tokenisasi, kecepatan perjalanannya masih akan ditentukan oleh seberapa cepat regulator memberi kepastian - dan seberapa mulus teknologi baru ini bisa dijahitkan ke pipa-pipa keuangan lama. Bagi pelaku pasar Indonesia, ini pertanda bahwa infrastruktur keuangan global perlahan sedang berpindah rel.
Dilansir dari CoinDesk.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




