Sebuah taktik penipuan kripto tak lagi mengandalkan tautan jebakan atau permohonan persetujuan dompet yang mencurigakan. Kali ini, pelaku meyakinkan korban untuk men-deploy sendiri kontrak pintar jahat ke jaringan blockchain.
Laporan TRM Labs pada 14 September 2026 mengungkap komplotan penipuan yang memanfaatkan tren kecerdasan buatan. Lewat video palsu di YouTube, pelaku mempromosikan bot arbitrase kripto bertenaga AI dengan mencatut nama asisten virtual Claude dari Anthropic. Hasil akhirnya adalah hilangnya aset 274,6 ETH senilai $517.000, yang terkuras dari 234 kontrak buatan 224 korban berbeda.
Kerugian median per insiden berada di angka 1 ETH. Data angka ini menunjukkan pelaku menargetkan pengguna luas dengan nominal kecil, bukan mengeksploitasi segelintir korban bermodal besar. Beberapa korban bahkan sempat membuat lebih dari satu kontrak sebelum sadar uang mereka hilang. Seluruh modal dari ratusan kontrak jahat itu pada akhirnya masuk ke enam alamat pengumpul yang dikendalikan pelaku.
Bukan Serangan Phishing Biasa
Skema pembobolan baru tampil berbeda dari metode peretasan konvensional. Pencurian terjadi karena korban sendirilah yang menekan tombol eksekusi di setiap tahap on-chain. TRM Labs mengidentifikasi sembilan video tutorial YouTube identik yang diunggah memakai identitas kreator berbeda. Demi memperkuat kesan profesional, jaringan ini memakai pembawa acara virtual dan narasi buatan AI.
Pengguna yang mematuhi petunjuk video langsung diarahkan ke situs compiler palsu. Tampilan muka situs didesain semirip mungkin dengan Remix, alat pemrograman yang lazim dipakai developer Ethereum. Di tahap inilah penipuan terjadi. Saat mengira sedang menyusun kode bot arbitrase AI Claude, target sesungguhnya sedang merakit dan men-deploy kontrak pintar penipu yang akan menguras setoran awal mereka.
Alur transaksi sedemikian rupa sengaja dirancang untuk mengaburkan batas antara eksploitasi dan aktivitas normal. Karena urutan langkah mulai dari penyusunan kode hingga persetujuan dompet diinisiasi pengguna atas kemauan sendiri, sistem peringatan keamanan standar tidak menyala. Tidak ada klik pada tautan phishing, dan tak ada satupun permintaan izin penarikan dana ke pihak ketiga.
๐ Baca JugaHacker Revolut Tuntut Tebusan 6.000 Monero - Ternyata 680 Korban Dipilih Lewat Analisis On-Chain
Menembus Pertahanan Lewat Ilusi Kendali
Ketiadaan campur tangan pihak luar membuat alur operasi sulit terdeteksi ekstensi dompet kripto. Pemilik aset yang memburu untung instan namun miskin literasi kode rentan terjebak oleh proses yang terlihat aman. Mereka meyakini dananya terlindungi semata karena memegang kendali atas setiap baris perintah di platform tiruan antarmuka Remix.
Kasus hilangnya 274,6 ETH menunjukkan adanya celah keamanan on-chain. Ancaman tak selalu lahir dari kelemahan kode dasar protokol. Lewat pemalsuan nama besar entitas AI dan rekayasa antarmuka alat developer, pelaku bisa menuntun korban agar menyetorkan aset dengan sukarela ke dompet jebakan yang dibuat sendiri.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Hacker Revolut Tuntut Tebusan 6.000 Monero - Ternyata 680 Korban Dipilih Lewat Analisis On-Chain
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




