Salah satu janji kripto paling ambisius pemerintahan Trump kini tersangkut di dalam gedung pemerintahan sendiri. Upaya membentuk Cadangan Bitcoin Strategis AS (Strategic Bitcoin Reserve/SBR) dilaporkan tersendat, bukan karena kekurangan Bitcoin - melainkan karena dua kementerian besar berebut siapa yang berhak memegang kendali.
Menurut laporan Bloomberg hari Senin yang mengutip sumber yang mengetahui langsung situasinya, Departemen Perdagangan dan Departemen Keuangan berselisih soal struktur pengelolaan dan lembaga mana yang punya otoritas utama atas cadangan tersebut.
Perintah Awal vs Kenyataan di Lapangan
Perintah eksekutif Trump pada Maret 2025 sebenarnya sudah menetapkan SBR berada di bawah Departemen Keuangan, dengan lembaga lain sekadar membantu proses penyitaan aset untuk mengisi cadangan. Namun di praktiknya, muncul kekhawatiran apakah Departemen Keuangan benar-benar punya otoritas hukum untuk mengelola kepemilikan Bitcoin - sebagian karena sifat asetnya yang sangat volatil.
Departemen Perdagangan kini muncul sebagai kandidat alternatif untuk mengawasi cadangan itu. Sementara itu, Departemen Kehakiman dilaporkan turut bekerja sama dengan kedua lembaga untuk memetakan opsi hukum yang tersedia bagi struktur SBR ini. Dengan kata lain, cetak birunya masih diperdebatkan di meja para pengacara pemerintah.
Dari ‘Penipuan’ Jadi ‘Aku Orang Kripto’
Ironisnya, kemacetan ini terjadi saat Trump sendiri makin lantang soal kripto. Di sela konferensi pers Oval Office soal ‘Trump Accounts’ - rekening investasi untuk anak di bawah 18 tahun - Trump ditanya soal Bitcoin dan menjawab blak-blakan.
📌 Baca JugaRegulator yang Bakal Mengawasi Kripto $2,2 Triliun Ini Cuma Punya Satu Orang di Kursinya - dan Anehnya Malah Makin Gesit
“Saya jadi orang kripto banget hanya karena satu alasan: Kalau kita tidak punya, China yang akan punya… Saya terlibat sedikit karena politik… Saya sadar ada banyak orang yang cinta kripto,” katanya. Pernyataan itu kontras tajam dengan sikapnya di masa jabatan pertama, ketika ia mengaku ‘bukan penggemar’ dan bahkan pernah menyebut Bitcoin sebagai ‘sebuah penipuan’.
Yang menarik dicermati bukan sekadar apakah SBR jadi terwujud, tapi pesan yang tersirat dari kemacetannya: menyimpan Bitcoin sebagai cadangan negara ternyata bukan soal niat politik semata, melainkan soal siapa yang berani memikul aset yang harganya bisa berayun liar dalam semalam. Perebutan kursi di Washington ini baru babak pembukanya.
Dilansir dari Cointelegraph.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




