Blockchain layer-1 Dango resmi menghentikan perdagangan pada perpetual DEX miliknya dan berencana menutup total seluruh operasi jaringan pada 13 Agustus 2026. Keputusan mundur ini diambil hanya empat bulan setelah fitur bursa perpetual meluncur. Dango sebenarnya baru mengudarakan mainnet mereka pada Januari lalu, berbekal suntikan dana $3,6 juta dari putaran pendanaan tahap awal (seed) tahun 2024 yang dipimpin oleh Hack VC dan Lemniscap.
Pernyataan resmi pada hari Jumat di platform X merangkum akhir perjalanan singkat proyek ini. “Meski sudah berusaha keras, berbagai alasan membuat kami menyimpulkan tidak ada jalur menuju kesuksesan komersial berkelanjutan,” tulis tim Dango. Pendiri proyek, Larry Liu, merinci deretan beban operasional yang menumpuk. Ia menyebut kas perusahaan yang menipis, rintangan hukum yang mengerem momentum pengembangan, kepergian anggota tim inti, hingga kondisi pasar kripto yang makin tidak ramah bagi platform skala menengah.
Ujian Bertubi-tubi Sejak Hari Pertama
Tanda-tanda kesulitan Dango sejatinya sudah muncul hanya beberapa hari setelah peluncuran DEX pada bulan April 2026. Platform ini langsung menjadi korban eksploitasi dengan kerugian mencapai $410.000. Meski peretas akhirnya mau mengembalikan dana untuk ditukar dengan imbalan bug bounty, insiden awal ini terlanjur merusak metrik kepercayaan pengguna.
Hal ini tecermin jelas pada penyusutan TVL atau total nilai terkunci. Aset yang ada di Dango anjlok dari titik tertinggi $4,5 juta pada awal Mei menjadi hanya $1,6 juta pada hari-hari sebelum pengumuman penutupan. Lebih jauh, nilai open interest atau kontrak yang belum diselesaikan mentok di angka $391.000. Angka ini jauh di bawah platform Hyperliquid yang membukukan open interest $11 miliar. Laporan kuartal kedua CoinGecko per 1 Juli menempatkan Hyperliquid sebagai bursa perpetual terbesar kedua tepat di belakang Binance.
Badai Likuiditas Menyapu Pemain Menengah
Dango tidak sendirian mengemas barang pada bulan ini. Juli 2026 berubah menjadi bulan sulit bagi sejumlah entitas kripto, ditandai dengan penutupan bursa veteran berusia 11 tahun BitMEX, Odos Protocol, hingga Satori Finance. Catatan para analis menyoroti satu akar masalah yang sama: likuiditas pasar kini makin terkonsentrasi di tangan pemain besar. Di saat yang sama, biaya kepatuhan regulasi terus merangkak naik dan membebani platform berskala menengah.
📌 Baca JugaHacker Palsukan 1.627 Deposit Solana Senilai $41,7 Juta - Begini Cara Across Protocol Menekan Kerugian Jadi $4 Juta
Dalam lanskap perpetual hari ini, hanya platform Aster dan Variational yang mampu mempertahankan open interest di atas $1 miliar di luar barisan penguasa pasar. Pemusatan ini tidak cuma menimpa pasar turunan. Para analis mencatat lima platform teratas kini menguasai 80% volume perdagangan spot global, mengonfirmasi bahwa margin keuntungan bagi bursa kelas menengah terus tergerus.
Kasus Dango memberi gambaran keras bagi ruang DeFi. Dukungan firma modal ventura dan landasan peluncuran yang mulus bukan jaminan kelangsungan proyek; modal jutaan dolar bisa habis dalam empat bulan ketika likuiditas menolak datang ke platform baru. Dilansir dari Cointelegraph.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




