XRP Ledger versi 3.3.0 resmi meluncur pada 6 Agustus 2026, membawa hasil perburuan bug selama enam bulan bersama firma keamanan Web3 Sherlock. Lewat kontes perdana senilai total $550.000 RLUSD ini, puluhan peneliti keamanan membongkar kode lapis pertama jaringan dan menemukan 96 celah valid: 59 berisiko rendah, 29 menengah, enam tinggi, serta dua berstatus kritis.
Dua temuan kritis itu menyimpan ancaman yang sama persis: peretas bisa menguras saldo dompet XRP tanpa pernah memegang kunci privat pemilik aslinya.
Bug pertama bersarang di fitur Batch Transactions, yang dirancang untuk menjalankan hingga delapan operasi sekaligus dalam satu paket. Peneliti keamanan independen Pranamya Keshkamat dan alat kecerdasan buatan Apex dari Cantina menemukan hal ini pada 19 Februari 2026. Mereka mengidentifikasi celah pada validasi tanda tangan transaksi luar yang punya jalan pintas keluar lebih awal. Jika dimanfaatkan, penyerang bisa mengosongkan saldo korban hingga batas cadangan minimum dalam sekali jalan, termasuk mengambil alih pengaturan akun dan menghapus data tanpa izin.
Ancaman kedua sama fatalnya. Celah ini tersembunyi di fitur Permission Delegation dan memungkinkan penyerang mengambil XRP orang lain dengan mengeksploitasi sistem biaya kesalahan teknis.
Alasan Tidak Ada Dana yang Melayang
Meski ancamannya bisa melumpuhkan jaringan, tidak ada satu sen pun dana pengguna yang hilang. Saat kode Batch Transactions diperiksa, fitur itu masih tertahan di bawah ambang batas persetujuan validator 80%. Artinya, meski senjatanya ada di dalam kode, tombol pelatuknya belum aktif di jaringan utama.
Respons pengembang juga memotong peluang serangan. Hanya empat hari setelah penemuan pertama, Ripple merilis pembaruan darurat versi 3.1.1 pada 23 Februari 2026 yang mengubah status fitur itu menjadi tidak didukung. Kini, versi perbaikan utuh bernama BatchV1_1 telah dikirim bersama rilis 3.3.0, membuang jalan pintas kode dan memperketat sistem otorisasi.
๐ Baca JugaData Pajak 678 Ribu Warga Prancis Bocor - Pemilik Bitcoin Jadi Target Serangan Fisik
Ripple total mencairkan $309.000 RLUSD langsung kepada peneliti, sementara sisa hadiah dipakai untuk biaya operasional Sherlock. Sepanjang enam bulan, audit ini membedah lima area baru, termasuk fitur integrasi bursa terdesentralisasi, transfer rahasia, dan biaya bersponsor.
Melawan Tradisi Tambal Sulam
Kontes ini menandai langkah langka di industri kripto. Firma Sherlock biasanya hanya mengaudit smart contract berbasis bahasa Solidity. Membedah tumpukan kode C++ pada infrastruktur dasar seperti XRP Ledger adalah wilayah yang jarang disentuh.
Namun perbedaan paling mencolok ada pada waktu penanganannya. Industri kripto terlalu terbiasa menambal celah kode hanya setelah uang penggunanya telanjur dicuri. Pilihan Ripple untuk membayar peretas ratusan ribu dolar demi memeriksa struktur bangunan sebelum pintunya dibuka penuh, menunjukkan ada cara yang lebih murah daripada membayar kerugian pasca-retas.
Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




