Volume ekonomi kripto Singapura melompat tajam 55,4% menyentuh level $284 miliar dalam 12 bulan terakhir hingga Juni 2026. Data analitik Chainalysis menunjukkan pergerakan dana ini mengembalikan posisi Singapura ke takhta ekonomi kripto terbesar di wilayah Asia Tengah, Selatan, dan Oseania (CSAO).
Angka $284 miliar itu bertolak belakang dengan kondisi total kawasan CSAO yang justru mencatat penyusutan volume kripto 6,8% pada periode yang sama.
Namun modal baru ini bukan berasal dari kantong investor kecil.
Institusi dan Pembuat Pasar Mengambil Alih
Platform institusional menyumbang porsi dominan dengan kenaikan volume 94% menuju $60 miliar. Aliran uang sebesar ini terpusat pada segelintir pihak, mulai dari pembuat pasar (market maker), firma perdagangan over-the-counter (OTC), hingga broker institusional.
Urusan pembuat pasar justru sedang menjadi bahan evaluasi di Korea Selatan. Komisi Jasa Keuangan (FSC) di Seoul kini mengkaji ulang sistem market-making aset digital menyusul kekacauan harga pada stablecoin JPYC.
Bursa kripto Upbit membuka perdagangan token JPYC - stablecoin yang dipatok ke yen Jepang - pada 17 September dengan harga awal 12 won. Akibat likuiditas terbatas di pasar, harga token melesat ke 37,6 won atau melampaui empat kali lipat nilai sebenarnya.
Masalah likuiditas ini terganjal oleh Undang-Undang Perlindungan Pengguna Aset Virtual Korea Selatan yang belum memberikan pengecualian bagi aktivitas market-making dari ketentuan manipulasi harga pasar.
Meski regulasi masih buram, MoonPay memutuskan masuk ke negara itu dengan mendirikan anak perusahaan penyedia layanan remitansi, pembayaran, dan distribusi aset digital. Entitas baru ini sekarang hanya bisa bersiaga menunggu persetujuan operasi dari regulator Korea Selatan.
Sikap Keras China dan Kerja Sama Hong Kong
Di tempat terpisah, Kementerian Keamanan Negara China mengeluarkan peringatan bahwa transaksi kripto tidak benar-benar menjamin anonimitas. Pemerintah di Beijing menuding aset digital berperan sebagai alat bantu bagi operasi mata-mata asing dan skema pencucian uang.
๐ Baca JugaWall Street Balik Arah: Citi Kerek Target Bitcoin ke $113.000 Usai Tembok RUU Senat Runtuh
Hong Kong memilih jalan berbeda dengan memperketat pengawasan formal terhadap industri. Komisi Sekuritas dan Berjangka (SFC) bersama Dewan Pelaporan Keuangan dan Akuntansi (AFRC) meneken perjanjian kerja sama khusus untuk mengaudit entitas kripto berlisensi di wilayahnya.
Kondisi regulasi yang terang di Hong Kong mendorong bank besar HSBC mempersiapkan peluncuran RedCoin, stablecoin berbasis dolar Hong Kong. Produk ini membidik penyelesaian pembayaran antar-pengguna dan level pedagang pada fase awal, sebelum diekspansi untuk memenuhi kebutuhan korporat dan institusi.
Bagi pelaku industri, perpindahan uang mempertegas pola lama. Modal skala institusi akan terus mengalir ke yurisdiksi yang menyediakan jalur kepatuhan yang jelas seperti Singapura dan Hong Kong, alih-alih bertahan di wilayah tanpa penjamin likuiditas pasar.
Dilansir dari Cointelegraph.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Baca juga: Wall Street Balik Arah: Citi Kerek Target Bitcoin ke $113.000 Usai Tembok RUU Senat Runtuh
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




