Bank sentral Amerika Serikat mulai pecah suara menghadapi angka inflasi yang belum juga jinak. Pada pertemuan 28-29 Juli lalu, Federal Reserve memutuskan menahan suku bunga di level 3,50%-3,75% dengan perolehan suara 9-3. Tiga anggota komite berbeda pendapat dan mendesak kenaikan 25 basis poin. Presiden Chicago Fed Austan Goolsbee bahkan menyebut laju inflasi di atas target 2% ini sebagai masalah ekonomi AS terbesar saat ini.
Sorotan pasar kini bertumpu pada rilis data Consumer Price Index (CPI) Juli oleh Bureau of Labor Statistics pada pukul 8:30 pagi ET tanggal 12 Agustus. Konsensus ekonom mengantisipasi inflasi tahunan turun tipis dari 3,5% ke 3,4%, sedangkan inflasi inti diprediksi melemah dari 2,6% ke 2,5%. Angka ini akan menjadi ujian pertama soal ke mana haluan baru The Fed bersandar.
Faktor Hormuz dan Desakan Kubu Hawkish
Perdebatan di tingkat pengambil kebijakan berpotensi makin pelik karena sentimen eksternal. Penentuan arah kebijakan moneter kini ikut dibayangi oleh penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara AS dan Iran. Padahal, perairan ini normalnya dilalui oleh sekitar seperlima dari seluruh pasokan minyak dan gas global. Gangguan pasokan logistik energi ini sewaktu-waktu dapat memicu lonjakan harga dan memantik kembali api inflasi.
Kondisi di luar Amerika ini menambah argumen bagi kubu hawkish yang pro-pengetatan. Presiden Minneapolis Fed Neel Kashkari, Beth Hammack, dan Lorie Logan mendukung opsi kenaikan suku bunga segera untuk membendung rambatan kenaikan harga ke berbagai sektor ekonomi.
Bitcoin Menahan Napas dengan Volume Rendah
Tarik-menarik kebijakan ini langsung menekan minat di pasar kripto. Bitcoin terus tertahan dalam pergerakan sideways selama lima minggu berturut-turut di kisaran $64.000. Data memperlihatkan volume perdagangan kripto saat ini terpuruk ke titik terendahnya dalam tiga tahun terakhir. Implied volatility Bitcoin ikut terseret runtuh akibat sebagian besar pelaku pasar enggan masuk sebelum ada kepastian kebijakan moneter dan kejelasan status rancangan undang-undang Digital Asset Market Clarity Act.
Arus uang masuk ke instrumen ETF spot Bitcoin sebenarnya berjalan stabil. Namun kucuran modal ini dimentahkan oleh derasnya tekanan jual via mekanisme OTC dari pihak penambang dan akumulator besar layaknya MicroStrategy (MSTR). Situasi ini memaksa nilai Bitcoin cuma mampu naik 2% pekan lalu meski tren pembelian dari sisi institusi terus terjaga.
๐ Baca JugaCo-founder Tinder Borong Saham American Bitcoin $1,93 Juta - Padahal Perusahaan Sedang Rugi $57 Juta
Menghadapi Rapor Merah Bulan September
Jalan ke depan menyimpan tantangan tambahan. Laporan historis platform CoinGlass menegaskan bahwa September adalah bulan terlemah bagi pergerakan Bitcoin, ditandai dengan rata-rata kejatuhan sekitar 4% semenjak 2013.
Analisis dari platform prediksi pasar meletakkan probabilitas 59% bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunganya pada bulan September. Selain itu, ada peluang 59% lainnya terkait potensi setidaknya satu langkah kenaikan suku bunga baru sebelum pergantian tahun 2026. Publikasi CPI hari ini adalah kepingan data baru pembuka arah yang sanggup meruntuhkan kebekuan pasar sebulan terakhir.
Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




