DeSci (Decentralized Science) adalah gerakan pemanfaatan teknologi blockchain dan Web3 untuk mendanai, meninjau, serta membagikan riset ilmiah secara terbuka dan transparan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mendapatkan dana langsung dari komunitas global tanpa bergantung pada birokrasi lembaga tradisional, sekaligus menjamin hak cipta serta akses publik terhadap data ilmiah secara adil.
🔊 Cara baca: di-sai
Penjelasan
Bayangkan selama ini para ilmuwan seperti penulis buku yang harus meminta izin dan modal dari satu penerbit besar yang sangat kaku agar karyanya bisa terbit. Di sistem lama, jurnal ilmiah sering mengunci hasil penelitian di balik biaya langganan yang sangat mahal, sehingga masyarakat biasa sulit membaca hasil riset tersebut.
DeSci hadir seperti gerakan patungan warga sedunia. Ilmuwan bisa menceritakan ide risetnya ke masyarakat luas, lalu siapa pun yang peduli bisa ikut menyumbang dana secara langsung, dan hasilnya bisa dibaca gratis oleh semua orang demi kemajuan bersama.
DeSci atau Sains Terdesentralisasi menggabungkan prinsip Web3 seperti smart contract, organisasi otonom (DAO), dan token digital untuk mengatasi masalah struktural dalam dunia akademis konvensional. Masalah utama yang ingin diselesaikan mencakup sulitnya pendanaan riset independen, proses tinjauan sejawat (peer review) yang lambat dan tidak berbayar bagi peninjau, serta monopoli penerbit jurnal ilmiah komersial.
Melalui DeSci, komunitas pembeli token atau pendukung riset dapat membentuk organisasi khusus untuk menggalang dana dan menentukan proyek mana yang layak didukung secara demokratis. Hasil riset, paten, maupun data eksperimen dapat dicatat di blockchain sebagai aset digital, sehingga hak kekayaan intelektual peneliti tetap aman dan transparan.
Dalam implementasi teknis, DeSci sering menggunakan konsep IP-NFT (Intellectual Property Non-Fungible Token) yang mengikat hak paten dan data riset ke dalam smart contract di blockchain. Ekosistem ini juga memanfaatkan BioDAO untuk mengelola kekayaan intelektual riset bioteknologi secara kolektif, serta menerapkan protokol penyimpanan terdesentralisasi seperti IPFS atau Arweave untuk memastikan data mentah eksperimen tidak dapat disensor atau dimanipulasi.
🇮🇩 Konteks Indonesia
Di Indonesia, konsep DeSci sangat selaras dengan budaya gotong royong dan berpotensi besar membantu pendanaan riset keanekaragaman hayati atau tanaman obat tradisional yang selama ini terkendala anggaran. Namun, jika proyek DeSci melibatkan penerbitan token aset kripto untuk investor di tanah air, kegiatan jual-beli aset tersebut tetap tunduk pada regulasi OJK/Bappebti sebagai komoditi yang dikenai pajak final, serta bukan sebagai alat pembayaran yang sah.
Contoh
Bayangkan sekelompok petani di berbagai desa yang ingin meneliti pupuk organik baru. Alih-alih menunggu bertahun-tahun proposal disetujui dinas pemerintah, mereka membuat papan pengumuman terbuka di balai desa global tempat ribuan warga bisa patungan dana seikhlasnya; setelah riset berhasil, resep pupuk itu ditempel di papan pengumuman agar semua warga desa bisa memakainya tanpa harus membayar royalti ke pabrik besar.
Apa perbedaan utama antara DeSci dan riset ilmiah tradisional?
Riset tradisional sangat bergantung pada hibah pemerintah atau korporasi besar dengan publikasi berbayar di jurnal tertutup, sedangkan DeSci memanfaatkan pendanaan kolektif berbasis komunitas global dan menyediakan akses terbuka terhadap seluruh data riset.
Bagaimana cara peneliti mendapatkan dana melalui DeSci?
Peneliti dapat mengajukan proposal ke organisasi desentralisasi (DAO) bertema sains, melakukan penggalangan dana publik melalui penjualan token proyek, atau memanfaatkan mekanisme pendanaan kuadratik dari komunitas Web3.
🧠 Uji Paham
Istilah Terkait
Terakhir diperbarui 22 September 2026. Konten bersifat informatif/edukatif, bukan nasihat keuangan atau hukum - regulasi kripto bisa berubah, selalu verifikasi ke sumber resmi (OJK/Bappebti) untuk keputusan penting.




