Bursa Wall Street boleh tutup setiap akhir pekan, tapi Ripple Prime kini membiarkan investor institusi memperdagangkan saham dan komoditas tanpa jeda. Unit pialang institusional milik Ripple itu memperluas fasilitas swap derivatif ke lebih dari 100 pasar acuan. Jangkauan produknya mencakup saham perusahaan terbuka Amerika Serikat, indeks pasar, exchange-traded funds (ETF), komoditas logam, energi seperti minyak mentah, hingga valuta asing selama 24 jam sehari dan tujuh hari sepekan.
Integrasi teknis ke platform Trade.xyz di bursa derivatif terdesentralisasi Hyperliquid menjadi fondasi sistem perdagangan nonstop ini. Lewat jalur itu, kontrak berjangka perpetual dimanfaatkan klien institusi untuk mengelola risiko posisi saat bursa konvensional tutup.
Untuk urusan modal, Ripple menyematkan stablecoin miliknya, RLUSD, sebagai instrumen agunan margin terpadu. Klien institusi dapat memakai saldo koin dolar itu untuk mengamankan posisi di berbagai kelas aset sekaligus di dalam satu akun Ripple Prime. Firma perdagangan Virtu Financial tercatat menjadi salah satu klien institusional pertama yang memanfaatkan instrumen swap perpetual ini.
Jalur Lepas Pantai dan Ujian Likuiditas
Ripple menjalankan perdagangan swap ini di bawah lisensi Ripple Prime di Kepulauan Virgin Britania, dengan rencana ekspansi yurisdiksi di masa depan. Hingga kini, Ripple belum membeberkan angka resmi mengenai volume transaksi yang berputar di platformnya.
Ekspansi ini memantik evaluasi kritis dari perbankan konvensional. Kepala Riset Aset Digital HSBC, Daragh Maher, memandang peluncuran fasilitas ini bersifat evolusioner, bukan revolusioner. Maher menyoroti bahwa pasar kontrak perpetual untuk aset tradisional saat ini masih kecil dan kekurangan kedalaman likuiditas untuk menampung posisi bernilai besar.
Peringatan Likuidasi $52 Juta Saat Bursa Libur
Kekhawatiran soal tipisnya likuiditas akhir pekan bertumpu pada preseden nyata. HSBC mencontohkan risiko volatilitas lewat insiden likuidasi paksa senilai hampir $52 juta pada posisi saham chip hanya dalam tempo 10 menit saat pasar Wall Street sedang libur.
Dengan likuiditas yang masih dangkal, HSBC memproyeksikan aktivitas awal belum akan dimanfaatkan korporasi untuk lindung nilai strategis. Transaksi awal diperkirakan lebih banyak digerakkan oleh pembuat pasar, pedagang proprietary, dan dana lindung nilai yang mengincar peluang lewat strategi arbitrase basis trade.
๐ Baca JugaDisiapkan untuk 62 Perusahaan, Saham Tokenisasi OKXICE Justru Ditolak 16 Emiten Termasuk Microsoft
Bagi pengelola dana institusional, akses pasar tanpa henti memberi keleluasaan merespons peristiwa global di luar jam bursa resmi. Namun, preseden likuidasi puluhan juta dolar yang dicatat HSBC membuktikan bahwa bertransaksi di pasar sepi akhir pekan menuntut ketahanan margin ekstra ketat.
Dilansir dari CoinDesk.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Baca juga: SEC Buka Jalan Saham Masuk Blockchain - Sembilan Emiten dari Broadcom hingga Verizon Kompak Menolak
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




