Principal Token (PT) adalah aset kripto yang mewakili nilai pokok dari investasi awal dalam protokol pemisahan imbal hasil. Token ini dapat dicairkan dengan nilai penuh setelah mencapai tanggal jatuh tempo yang ditentukan. Sebelum jatuh tempo, PT biasanya diperdagangkan dengan harga diskon, memberikan kepastian keuntungan tetap bagi pemiliknya di masa depan.
๐ Cara baca: prin-si-pel to-ken
Penjelasan
Bayangkan kamu membeli kupon belanja senilai satu juta rupiah, tetapi kamu membelinya sekarang dengan harga sembilan ratus ribu rupiah saja. Kupon tersebut baru bisa ditukarkan dengan uang satu juta rupiah setelah waktu satu tahun. Selisih seratus ribu rupiah itulah keuntungan pasti yang kamu dapatkan karena bersedia menunggu.
Di dunia kripto, kupon belanja tersebut dinamakan Principal Token. Ini adalah cara bagi orang awam untuk mengunci keuntungan tetap tanpa harus pusing memikirkan naik turunnya suku bunga atau pasar kripto yang bergerak secara ekstrem.
Principal Token (PT) tercipta melalui protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang memisahkan aset penghasil bunga menjadi dua bagian terpisah, yaitu nilai pokok (principal) dan hak atas bunga (yield). Ketika seseorang memasukkan asetnya ke dalam protokol ini, mereka akan menerima PT sebagai bukti kepemilikan atas nilai pokok aset tersebut.
Pemegang PT tidak akan mendapatkan pembagian bunga harian atau mingguan dari aset yang disimpan. Sebagai gantinya, mereka bisa membeli PT dengan harga lebih murah daripada aset aslinya saat ini, lalu menukarkannya secara penuh dengan rasio satu banding satu ketika masa kontrak atau jatuh tempo telah selesai.
Konsep ini sangat mirip dengan surat utang atau obligasi tanpa bunga di dunia keuangan tradisional. Nilai PT akan terus merangkak naik mendekati harga aset aslinya seiring berjalannya waktu menuju tanggal jatuh tempo.
Secara teknis, harga Principal Token (PT) ditentukan oleh formula pasar yang memperhitungkan sisa waktu menuju jatuh tempo dan ekspektasi imbal hasil (implied yield) dari aset dasar. Jika tingkat bunga pasar (implied yield) meningkat, harga PT di pasar sekunder cenderung turun karena investor menuntut diskon yang lebih besar. Sebaliknya, ketika jatuh tempo semakin dekat, volatilitas harga PT menurun dan nilainya secara bertahap mendekati satu banding satu dengan underlying asset seperti stETH atau eETH, sehingga risiko kerugian modal (impermanent loss) menjadi minimal jika dipegang hingga selesai.
๐ฎ๐ฉ Konteks Indonesia
Di Indonesia, aset kripto dikategorikan sebagai komoditi yang diperdagangkan dan bukan alat pembayaran yang sah berdasarkan aturan hukum yang berlaku. Meskipun Principal Token merupakan inovasi teknologi DeFi baru yang diperdagangkan secara global, transaksi jual-beli aset kripto sejenis di bursa lokal yang terdaftar resmi sebagai Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK) tetap tunduk pada pengawasan OJK/Bappebti dan dikenai pajak final sesuai ketentuan regulasi nasional.
Contoh
Bayangkan seorang petani padi yang membutuhkan modal cepat sebelum masa panen tiga bulan lagi. Kamu bersedia memberikan modal tersebut dengan membeli hak atas beras hasil panennya nanti senilai sepuluh kilogram, tetapi kamu hanya membayar seharga delapan kilogram saat ini. Surat perjanjian pembelian beras pokok sebesar sepuluh kilogram itulah Principal Token kamu, yang baru bisa ditukarkan secara utuh menjadi beras asli saat panen tiba.
Apa perbedaan antara Principal Token (PT) dan Yield Token (YT)?
Principal Token mewakili nilai pokok investasi yang akan dicairkan saat jatuh tempo tanpa mendapatkan bunga. Sementara itu, Yield Token mewakili hak atas seluruh imbal hasil atau bunga yang dihasilkan oleh aset tersebut selama masa kontrak berlangsung.
Apakah kita bisa menjual Principal Token sebelum tanggal jatuh tempo?
Ya, pemegang Principal Token bisa menjual token mereka kapan saja di pasar sekunder sebelum tanggal jatuh tempo. Namun, harga jualnya akan bergantung pada mekanisme pasar dan biasanya tetap lebih rendah daripada nilai penebusan penuhnya.
๐ง Uji Paham
Istilah Terkait
Terakhir diperbarui 17 Agustus 2026. Konten bersifat informatif/edukatif, bukan nasihat keuangan atau hukum - regulasi kripto bisa berubah, selalu verifikasi ke sumber resmi (OJK/Bappebti) untuk keputusan penting.




