Quadratic Funding adalah metode pendanaan barang publik yang mengutamakan jumlah orang yang menyumbang daripada besarnya nilai sumbangan. Lewat rumus matematika khusus, proyek yang didukung oleh banyak warga akan mendapatkan porsi dana tambahan terbesar dari kas donatur utama, sehingga keputusan alokasi dana menjadi lebih adil, demokratis, dan benar-benar mencerminkan kebutuhan banyak orang.
๐ Cara baca: kwo-dra-tik fan-ding
Penjelasan
Bayangkan warga satu kampung sedang mengumpulkan uang untuk berbagai perbaikan fasilitas. Ada pengusaha kaya yang ingin menyumbang banyak untuk lapangan golf mini, tapi ada puluhan warga biasa yang masing-masing hanya menyumbang seribu rupiah untuk memperbaiki jembatan rusak. Ada seorang donatur besar yang menyiapkan dana bantuan tambahan.
Nah, Quadratic Funding bekerja seperti aturan cerdas donatur tersebut: bantuan tambahan terbesar akan diberikan ke proyek jembatan karena proyek itu didukung oleh orang paling banyak, bukan ke proyek lapangan golf yang uangnya banyak tapi peminatnya cuma satu orang kaya.
Quadratic Funding (QF) adalah model urun dana demokratis yang dirancang untuk mendanai barang publik atau proyek komunitas di ekosistem Web3 dan dunia nyata. Dalam sistem ini, ada dua sumber dana: sumbangan langsung dari individu masyarakat dan kumpulan dana pencocokan (matching pool) yang disiapkan oleh sponsor atau yayasan pendukung.
Keunikan QF terletak pada cara pembagian dana pencocokan tersebut. Algoritma QF menghitung bobot berdasarkan banyaknya jumlah penyumbang unik, bukan sekadar total nominal uang yang terkumpul. Sumbangan kecil dari seratus orang akan melipatgandakan dana bantuan sponsor jauh lebih besar daripada sumbangan bernilai sama dari satu orang kaya saja.
Secara matematis, alokasi matching pool dihitung dengan menjumlahkan akar kuadrat dari setiap donasi individu, lalu hasilnya dikuadratkan. Karena fungsi akar memberikan nilai marjinal yang lebih tinggi pada partisipasi individu baru, proyek dengan banyak donatur kecil akan menghasilkan skor kecocokan kuadratik yang sangat tinggi. Model yang dipopulerkan oleh Vitalik Buterin, Glen Weyl, dan Zoe Hitzig ini banyak diterapkan pada platform seperti Gitcoin Grants, yang kini memadukan protokol verifikasi identitas terdesentralisasi seperti Gitcoin Passport untuk memitigasi serangan Sybil dan manipulasi kolusi.
๐ฎ๐ฉ Konteks Indonesia
Quadratic Funding belum diatur secara spesifik oleh OJK/Bappebti karena merupakan mekanisme teknologi urun dana nirlaba untuk barang publik, bukan produk investasi atau instrumen perdagangan kripto yang berstatus komoditi. Konsep ini sangat selaras dengan budaya gotong royong di Indonesia, seperti program urunan warga RT yang disubsidi oleh kas desa, di mana kegiatan yang melibatkan partisipasi warga terbanyak berhak mendapat bantuan dana fasilitas paling besar.
Contoh
Ibarat kompetisi festival musik komunitas yang menyediakan dana hadiah sponsor: pemenang dana bonus terbesar tidak ditentukan oleh peserta yang menjual satu tiket VIP termahal kepada kerabat kayanya, melainkan peserta yang berhasil menjual ratusan tiket murah ke penonton terbanyak karena lagunya benar-benar disukai oleh masyarakat luas.
Apa bedanya Quadratic Funding dengan crowdfunding biasa?
Pada crowdfunding biasa, proyek dengan nominal uang terbanyak yang menang tanpa memedulikan berapa orang yang menyumbang. Sedangkan pada Quadratic Funding, terdapat dana subsidi tambahan dari sponsor yang dialokasikan lebih banyak ke proyek dengan jumlah pendukung individu terbanyak.
Mengapa Quadratic Funding rentan terhadap serangan akun palsu?
Karena sistem ini menghargai banyaknya jumlah penyumbang, oknum curang bisa membuat ratusan akun palsu (serangan Sybil) untuk memecah sumbangan agar mendapat dana subsidi lebih besar, sehingga memerlukan sistem verifikasi identitas yang ketat.
๐ง Uji Paham
Istilah Terkait
Terakhir diperbarui 12 September 2026. Konten bersifat informatif/edukatif, bukan nasihat keuangan atau hukum - regulasi kripto bisa berubah, selalu verifikasi ke sumber resmi (OJK/Bappebti) untuk keputusan penting.




