Seorang peretas mencetak hingga 14,9 miliar token SAND palsu melalui dua alamat dompet di jaringan Base dan BNB Smart Chain tanpa menyertakan jaminan aset asli. Laporan awal dari lembaga riset PeckShield mengenai jumlah token ini langsung ditindaklanjuti oleh The Sandbox. Pengembang gim Web3 itu mengonfirmasi bahwa mereka telah sepenuhnya mengamankan kerentanan pada jembatan lintas-rantai (cross-chain bridge) yang menjadi titik masuk eksploitasi. Pencetakan token ilegal ini memanfaatkan celah protokol yang memungkinkan pelaku melewati syarat wajib penitipan jaminan token SAND asli di jaringan utama Ethereum.
Sebagai respons tanggap darurat, The Sandbox langsung menonaktifkan seluruh fungsi bridging untuk jaringan Base dan BNB Chain. Langkah penutupan akses ini bertujuan mengisolasi tumpukan token unbacked (tanpa jaminan) agar peretas tidak memiliki jalan untuk menukarkannya melalui jembatan resmi proyek. Pihak pengembang menegaskan saldo pengguna tetap aman dari dampak eksploitasi. Seluruh aset SAND yang tersimpan di jaringan Ethereum dan Polygon dipastikan tidak terpengaruh, karena nilainya dijamin penuh oleh token yang masih terkunci rapat di dalam Ethereum adapter.
Celah LayerZero dan Eksekusi Kilat
Perusahaan keamanan Blockaid menduga peretasan ini berakar dari pengambilalihan izin delegasi LayerZero. Penyerang mengeksploitasi sistem keamanan jembatan lintas-rantai melalui pemanggilan fungsi approveAndCall. Dalam eksekusinya di rantai blok, proses pembobolan dana ini berlangsung dalam jendela waktu yang sempit.
Data pelacakan dari BlockWatchdog memperlihatkan bahwa peretas menarik sekitar 14,75 juta SAND asli dari Ethereum adapter dalam waktu kurang dari satu menit. Aset hasil curian ini tidak disimpan lama, melainkan langsung dibuang ke pasar terbuka oleh pelaku. Dari rentetan penjualan kilat ini, peretas meraup dana likuid sekitar 80 ETH, yang setara dengan nominal $675.000 pada saat kejadian.
Langkah Darurat Bursa Kripto
Tumpukan 14,9 miliar SAND palsu yang dicetak pelaku melampaui total pasokan maksimum proyek yang sejak awal dipatok di angka 3 miliar SAND. Meski selisih angkanya terlihat besar di atas kertas, estimasi kerugian finansial langsung bagi ekosistem The Sandbox tetap tertahan di bawah 0,01% dari total pasokan asli berkat langkah isolasi jaringan yang memotong akses peretas.
๐ Baca JugaSkor Traksi Game Web3 Melompat 872% dalam 24 Jam - Otherside Yuga Labs Ikut Terseret Naik
Namun insiden ini tetap memicu gelombang kewaspadaan di pasar kripto sekunder. Bursa kripto besar di Korea Selatan seperti Upbit dan Bithumb mengambil langkah antisipatif dengan menangguhkan layanan deposit dan penarikan untuk token SAND. Keputusan pemblokiran jalur keluar-masuk ini diambil guna menghindari risiko ketidakstabilan harga, mencegah skenario terburuk jika peretas menemukan celah lain untuk memasukkan token ilegal dan merusak buku pesanan bursa.
Bagi pedagang eceran di bursa terpusat, penangguhan layanan ini menjadi pengingat keras bahwa kerentanan protokol selalu membawa risiko ikutan. Uang pengguna di dalam kontrak pintar mungkin aman, tapi kelancaran akses perdagangan mereka di bursa lokal bisa terhenti tiba-tiba saat jembatan lintas-rantai diretas. Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu NFT dan Cara Kerjanya?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




