Lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok dari 130 menjadi hanya 28 kapal per hari sejak Jumat hingga Minggu kemarin. Kebuntuan geopolitik yang sudah berlangsung hampir enam bulan sejak akhir Februari ini mendorong harga minyak mentah Brent naik 0,7% ke $91,46 per barel. Bitcoin merespons rentetan tekanan makro ini dengan merangkak naik di atas $64.600 pada 18 Agustus 2026, mencatat level tertinggi harian di $64.926 sebelum kehabisan tenaga untuk menembus batas psikologis $65.000.
Stagnasi ini berakar pada jalan buntu diplomasi. Jendela negosiasi 60 hari yang bermula dari kesepakatan sementara 17 Juni lalu telah habis masa berlakunya tanpa ada perpanjangan. Melalui platform Truth Social, Trump menolak ide negosiasi dengan Iran dan menegaskan posisinya: “Naval Blockade remains in full force, Hormuz Strait is open and operating”. Klaim pembukaan selat ini langsung dibantah keras oleh kepala negosiator Iran, Mohammad Baqer Qalibaf. Ia memastikan Iran tetap menutup jalur yang normalnya memegang kendali atas seperlima pasokan minyak dan LNG global. Selat baru akan dibuka bila Amerika Serikat memenuhi empat tuntutan mutlak: mencabut blokade pelabuhan, menghapus sanksi minyak, melepaskan aset beku, dan menghentikan ancaman militer.
Imbal Hasil Obligasi Tertinggi Sejak 2007
Krisis lalu lintas energi di Timur Tengah membuat harga minyak WTI ikut naik 0,9% menjadi $85,25. Ketakutan akan kembalinya masa inflasi tinggi merambat cepat ke pasar obligasi, mendorong imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun meroket ke 4,72%. Obligasi tenor 30 tahun bahkan menyentuh angka 5,33% - level puncak yang belum pernah tersentuh lagi sejak tahun 2007.
Beban berat dari imbal hasil obligasi ini langsung memukul bursa saham Wall Street. Indeks Nasdaq memimpin kejatuhan sebesar 1,4%, disusul oleh S&P 500 yang melemah 0,6% dan Dow Jones yang turun tipis 0,1%. Di tengah sentimen buang risiko ini, pemain institusional besar di pasar kripto memilih duduk di bangku cadangan. MicroStrategy tidak melakukan aksi pembelian maupun penjualan Bitcoin sama sekali sepanjang periode 10 hingga 16 Agustus, mempertahankan total simpanan mereka diam di angka 840.447 BTC.
Apa Langkah Kripto Selanjutnya?
Saat pasar investasi global tersandera oleh macetnya Selat Hormuz, para pemain industri kripto mengalihkan upaya mereka ke kebijakan dalam negeri. Sebuah pertemuan besar di Gedung Putih bersama para eksekutif kripto, termasuk perwakilan dari Coinbase, Ripple, dan a16z, telah dijadwalkan berlangsung pada 19 Agustus.
๐ Baca Juga100+ Proyek Kripto Tumbang Sepanjang 2026 - CEO GSN Ungkap Bom Waktu dari Era Boom Pendanaan
Fokus pasar kini terbelah antara risiko makro dan lobi regulasi. Kegagalan Bitcoin melesat jauh di atas $65.000 memberi sinyal jelas bahwa aset terdesentralisasi pun masih ikut menanggung beban dari naiknya biaya energi dan imbal hasil utang pemerintah.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




