Jaringan Bitcoin baru saja mencatat pergerakan yang hanya pernah terjadi satu kali sebelumnya. Tingkat kesulitan penambangan kini bertengger di angka 126,23 triliun setelah terkoreksi 0,74%. Posisi ini menempatkannya 1,1% lebih rendah dibandingkan titik yang sama persis setahun lalu di level 127,62 triliun.
Bagi jaringan yang dirancang untuk selalu bertumbuh seiring waktu, ini adalah anomali langka. Penurunan year-over-year semacam ini baru tercatat dua kali dalam sejarah panjang Bitcoin. Momen pertama terjadi pada 2021 lalu, tepat setelah pemerintah China memberlakukan larangan penuh terhadap seluruh aktivitas penambangan di negaranya.
Angka kesulitan yang melemah ini memperpanjang tren penyusutan yang sudah berlanjut sejak awal tahun. Posisinya saat ini melorot sekitar 14% dari puncak yang tercipta pada Januari 2026. Penurunan beruntun ini diawali oleh pemangkasan 10% sepanjang Juni, disusul koreksi tambahan 5% pada awal Juli. Jika ditarik lebih jauh dari rekor tertinggi sepanjang masa di 155,97 triliun pada November 2025, tingkat kesulitan jaringan sudah anjlok 19,1%.
Tekanan Ganda dan Beralih ke Kecerdasan Buatan
Pemicu kejatuhan kali ini bukan regulasi negara, melainkan realitas bisnis di lapangan. Harga Bitcoin yang lemah memukul langsung margin keuntungan penambang. Pendapatan yang terus terkompresi memaksa banyak operator mengambil keputusan berat. Mereka memilih mencabut modal, mengalihkan infrastruktur daya, hingga mengubah fungsi fasilitas operasional mereka ke sektor kecerdasan buatan (AI) serta High-Performance Computing (HPC) yang menjanjikan pengembalian lebih pasti.
Kondisi operasional mesin yang masih bertahan juga tidak lepas dari kendala. Kebijakan curtailment atau pembatasan penggunaan daya komersial di Texas - salah satu pusat penambangan paling padat - turut mematikan ribuan mesin. Rentetan gangguan operasional di sejumlah wilayah penambangan lain ikut memaksa sebagian kapasitas jaringan offline sementara.
Proyeksi Lesu Sampai Akhir Tahun
Indikator pendapatan harian belum menunjukkan perbaikan berarti. Metrik hashprice sempat terperosok ke $27,66 per petahash per hari (PH/hari) pada akhir Juni, mendekati titik terendahnya di bulan Februari. Walaupun hari ini harganya sudah merangkak naik sedikit ke angka $31,7, optimisme di pasar masih tertahan.
📌 Baca JugaStrategy Catat Rugi $8,22 Miliar - Saylor Tunda Beli Bitcoin Demi Selamatkan Saham Preferen STRC
Angka di pasar berjangka Luxor mengonfirmasi sentimen lesu ini. Forward market memperkirakan hashprice rata-rata hanya akan bertahan di $31,85/PH/hari sepanjang Desember mendatang, tanpa ada tanda pemulihan berarti hingga tutup tahun.
Menyusutnya tingkat kesulitan jaringan memang sedikit melonggarkan tekanan kompetisi bagi penambang yang mesinnya masih berputar. Tapi jeda kecil ini belum cukup untuk menyelamatkan margin ekonomi penambangan yang harus membiayai operasional harian. Dilansir dari CoinDesk.
Baca juga: Apa Itu Bitcoin Halving?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




