Peretas negara Korea Utara (DPRK) kini menerapkan taktik baru untuk menyusup ke perusahaan teknologi dan kripto di Amerika Serikat. Laporan dari NBC mengungkap operasi siber ini merekrut pekerja IT lepas dari negara ketiga seperti Iran dan Lebanon melalui platform LinkedIn.
Membayar Wajah Pengganti $500
Tawaran kerja yang disebar lewat jejaring profesional itu menyasar talenta IT asing untuk peran spesifik sebagai interview associates. Kandidat yang bersedia meminjamkan identitasnya ditawari bayaran $500 per bulan, disalurkan penuh dalam bentuk mata uang kripto. Tugas mereka hanya satu: mengandalkan kemampuan teknis pribadi untuk lolos proses wawancara kerja di perusahaan target.
Fase serah terima terjadi persis setelah rekrutmen ditutup. Begitu kontrak kerja resmi ditandatangani atas nama pekerja pihak ketiga, sang pelamar mundur dari layar. Seluruh posisi dan akses kerja jarak jauh langsung diserahkan kepada operator siber Korea Utara yang menunggu giliran.
Misi Ganda Pencurian dan Setoran Negara
Peringatan gabungan dari pemerintah AS dan sejumlah agen internasional mencatat pergerakan agen siber ini setelah mereka mendapat status karyawan sah. Pekerja IT siluman asal Korea Utara menjalankan tiga tugas beriringan: mengeksfiltrasi data sensitif perusahaan, membobol aset kripto internal, dan memastikan aliran gaji bulanan mereka masuk ke badan pemerintah DPRK.
Laporan dari firma keamanan siber CrowdStrike merinci jejak kelompok peretas afiliasi negara ini. Mereka memegang tanggung jawab atas pencurian kripto senilai lebih dari $2 miliar sepanjang tahun 2025. Angka perampasan digital itu menandai lonjakan kerugian industri sebesar 51% (YoY).
Suntikan dana dari dunia maya ikut menopang roda ekonomi negara di dunia nyata. Catatan dari Bank of Korea menunjukkan produk domestik bruto (PDB) Korea Utara tumbuh 3,5% pada 2025, membesar di tengah bayang-bayang sanksi ekonomi global yang ketat.
๐ Baca JugaDokumen Greenberg Traurig Bocor di Dark Web - Puncak Gelombang Serangan Firma Hukum yang Naik 100%
Kasus penyusupan lewat LinkedIn ini membuktikan bahwa celah keamanan paling longgar dari perusahaan kripto seringkali tidak bersumber dari kode kontrak pintar, melainkan berawal di meja wawancara departemen personalia.
Dilansir dari Cointelegraph.
Baca juga: Celah SSO Brevo Jebol 138 Akun Klien - Namun Target Utamanya Justru 347 Ribu Pengguna Trezor
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




