Firma hukum internasional Greenberg Traurig mengonfirmasi adanya akses tidak sah ke sejumlah dokumen mereka. Menurut laporan Reuters pada 10 September 2026, dokumen rahasia itu kini beredar di pasar gelap internet alias dark web. Sampai saat ini, pihak Greenberg belum merinci jenis data yang bocor maupun jumlah klien yang terdampak langsung oleh celah keamanan ini.
Kejadian di Greenberg Traurig hanya satu dari deretan pembobolan beruntun yang menghantam para pengacara sepanjang 2026. Pada bulan Maret, Taft Stettinius & Hollister melaporkan kebocoran nomor jaminan sosial (SSN) nasabah. Dua bulan kemudian, Herbert Smith Freehills Kramer mengalami insiden dengan skala paparan lebih luas: SSN, identitas terbitan pemerintah, hingga rekam medis klien terekspos ke publik.
Daftar target terus bertambah. WilmerHale menghadapi gugatan perwakilan kelompok pada bulan Juli menyusul peretasan sistem mereka di bulan Mei. Pada 7 Agustus, giliran Goodwin Procter yang diserang, sementara Quinn Emanuel melaporkan kompromi pada satu akun internal mereka akibat taktik rekayasa sosial.
Phishing dan Celah Pihak Ketiga
Laporan keamanan BakerHostetler tahun 2026 mencatat ada hampir 60 insiden siber yang khusus menargetkan firma hukum sepanjang 2025 - angka yang melompat hampir dua kali lipat dibandingkan periode 2024. Dari total 1.250 insiden keamanan data lintas industri yang mereka analisis, taktik phishing menjadi penyebab utama di 30% kasus, disusul kelemahan pada vendor pihak ketiga sebesar 25%.
Kelalaian menjaga data ini langsung ditebus di pengadilan. Kasus peretasan yang memicu gugatan class action dari klien menyentuh 14% dari total insiden yang diungkap ke publik pada 2025, naik dari 9% di tahun sebelumnya.
Incaran Bernilai Tinggi
Data klien yang dipegang firma hukum - termasuk milik para pemegang aset kripto - dicari peretas karena nilainya tinggi sebagai amunisi rekayasa sosial dan alat pemerasan lanjutan. Insiden kebocoran Coinbase pada Mei 2025 membuktikan seberapa bernilainya data pengguna: informasi pribadi milik 69.461 nasabah terekspos setelah pelaku menyuap agen dukungan pelanggan dari luar negeri.
๐ Baca JugaJendela Tambal Celah Bank Susut Jadi Hitungan Menit - AI Temukan 10.000 Titik Lemah
Rentetan data yang memuat nama, alamat, nomor telepon, dan foto identitas pemerintah itu memicu Coinbase mengambil sikap tegas. Mereka menolak membayar tebusan $20 juta dari peretas, lalu memutar strategi dengan menawarkan nominal uang yang sama sebagai hadiah bagi siapa pun yang bisa menyerahkan informasi identitas pelaku.
Bergesernya fokus serangan ke penyedia jasa menegaskan satu hal bagi pemilik aset kripto: upaya menjaga keamanan dompet digital bisa runtuh jika identitas dunia nyata mereka dibiarkan bocor dari dokumen firma hukum yang pertahanannya terbukti rapuh. Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: 95% Cadangan Lenyap - Liquid Network Cetak Blok Lagi Tapi Seluruh Transaksi Tetap Beku
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




