Ekspansi agen kecerdasan buatan (AI) otonom diprediksi bakal memicu lonjakan kebutuhan pada infrastruktur pembayaran terprogram dan aset berbasis blockchain. Laporan riset terbaru BlackRock berjudul The Machine-Native Economy menjabarkan bagaimana mesin akan saling bertransaksi. Kuartet peneliti Will Su, Robert Mitchnick, Jay Jacobs, dan William Helm menyusun laporan analisis ini.
Banyak investor institusi belum menyadari potensi perpaduan agen otonom dan aset kripto sebagai katalis struktural adopsi Web3. Sisi infrastruktur penyelesaian nilai yang diusung blockchain justru diproyeksikan menjadi fondasi utama bagi ekonomi kecerdasan buatan.
Bank Tradisional Terlalu Lambat untuk Mesin
Sistem perbankan konvensional dinilai kurang efisien untuk melayani transaksi antar mesin. Laporan BlackRock menyoroti kelemahan perbankan dalam memproses transaksi berfrekuensi tinggi dengan nilai sangat kecil atau sub-cent. Saat dua agen AI perlu saling membayar pertukaran data, sistem perbankan biasa justru melambatkan prosesnya.
Kendalanya bermula dari keharusan verifikasi identitas manual. Proses kepatuhan hukum ini membebani transaksi otonom yang butuh kecepatan eksekusi. Di samping itu, biaya merchant dari jaringan pembayaran tradisional membuat transaksi bernilai receh kehilangan nilai ekonomisnya sama sekali.
BlackRock memproyeksikan pergeseran instrumen penyelesaian transaksi ke arah aset digital. Stablecoin, mata uang kripto native, dan aset dunia nyata tertokenisasi (RWA) diperkirakan menjadi jalur utama pembentuk ekonomi mesin. Berbeda dengan bank, jaringan blockchain memungkinkan agen AI memindahkan nilai 24 jam penuh tanpa hambatan verifikasi manual.
Tokenisasi Daya Komputasi Sebagai Agunan
Kajian riset ini juga membahas potensi di luar sektor pembayaran murni. Tim peneliti melihat peluang besar pada ranah tokenisasi kapasitas komputasi, atau compute market. Klaim atas daya komputasi AI nantinya dapat diperdagangkan bebas di pasar lewat mekanisme token di blockchain.
Lewat model tokenisasi, daya komputasi memiliki kemampuan tambahan untuk menjadi agunan likuid. Institusi maupun agen AI tidak cuma menyewa kapasitas server, tetapi bisa langsung menjaminkan klaim hak komputasi mereka pada berbagai transaksi finansial desentralisasi.
๐ Baca JugaX Ubah Cashtag Jadi Tombol Beli Kripto dan Saham - Incar 132 Juta Pengguna Harian
Pergeseran menuju ekonomi yang digerakkan oleh mesin menuntut infrastruktur pembayaran yang setara otonomnya. Kemampuan agen menyetorkan nilai lintas batas tanpa batas waktu operasional bakal mengubah bentuk transaksi bernilai rendah di masa depan.
Dilansir dari Cointelegraph.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Baca juga: Bank Sentral Eropa Rilis Sistem Pontes - Langkah Kuasai Transaksi Tokenisasi Tanpa Stablecoin
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




