CEO AnchorWatch sekaligus pendiri Bitcoin Red Team, Rob Hamilton, mengumumkan di X bahwa akses OpenAI timnya diputus pada hari Sabtu, memaksa mereka beralih ke model AI open-source buatan Cina. Pemblokiran ini terjadi hanya sehari setelah tim berisi 16 sukarelawan itu mulai mengintegrasikan kemampuan Trust & Cyber dari OpenAI untuk memindai kerentanan di ratusan repositori sumber terbuka Bitcoin.
“Ini benar-benar menghancurkan hati saya sebagai patriot Amerika karena harus melakukan hal ini,” kata Hamilton menanggapi keputusan OpenAI. Ia menambahkan bahwa insiden pemblokiran memutus kemampuannya melanjutkan investigasi keamanan yang sedang berjalan. Namun, yang membuat kabar ini menonjol bukan sekadar soal pemutusan akses, melainkan momen ketika penutupan ini dijatuhkan.
Buru Celah Usai Tragedi Ratusan Juta Dolar
Tim sukarelawan ini dibentuk dan mulai beraksi tidak lama setelah peretasan dompet hardware Coldcard. Insiden itu menyasar celah pada generator angka acak yang bertugas membuat seed phrase, berujung pada hilangnya Bitcoin senilai lebih dari $100 juta dari 7.300 dompet korban. Peristiwa ini tercatat sebagai peretasan kripto terbesar ketiga sepanjang tahun 2026, berkontribusi besar pada total kerugian industri dari pencurian kripto bulan Juli yang menembus angka $247 juta.
Berbekal gabungan tenaga AI dan proses evaluasi manusia, Bitcoin Red Team menyisir tumpukan kode untuk mencegah kasus serupa terulang. Hasilnya, hingga Sabtu, 8 Agustus, mereka sudah mendeteksi 1.288 kerentanan tingkat kritis dan tinggi di seluruh ekosistem Bitcoin. Angka ini merupakan pembaruan dari laporan Hodler’s Digest sebelumnya yang menyebutkan temuan 7.958 total masalah keamanan, dengan rincian 168 berstatus kritis dan 1.120 berisiko tinggi. Kecepatan identifikasi tim terukur dari laporan Calle, seorang pengembang Bitcoin dan anggota Red Team, yang mencatat bahwa setiap orang rata-rata menemukan satu eksploit kritis per jam.
Aturan yang Mengikat Pihak yang Salah
Hamilton menyoroti kebijakan pembatasan yang menurutnya justru merugikan pihak keamanan jaringan. “Peretas topi hitam tidak akan terbentur masalah pembatasan ini. Para topi putih yang akan terkena dampaknya,” tegasnya. Ia menyimpulkan situasi ini sebagai titik terendah kebijakan, di mana kecerdasan buatan menjadi alat tanpa batas bagi pihak yang menolak mengikuti aturan main.
📌 Baca JugaFile Kredensial BTCPay Dicuri Peretas - Node Lightning Foundation dan Citadel21 Dikuras Habis
Kasus pemblokiran tim keamanan Bitcoin ini membuktikan kekhawatiran yang sudah disuarakan sejak lama. Bulan lalu, sejumlah eksekutif kripto menyatakan bahwa banyak pemain besar masih harus masuk daftar tunggu untuk menggunakan model AI terkuat demi mengamankan kode mereka. Bagi para pengguna dompet mandiri, hilangnya alat bantu para peneliti keamanan berarti potensi celah pada perangkat butuh waktu lebih lama untuk ditutup - memberi peretas kelonggaran yang tidak mereka butuhkan.
Dilansir dari Cointelegraph.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




