Mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper menulis opini di surat kabar Financial Times pada hari Sabtu, menyebut CLARITY Act sebagai instrumen keamanan nasional, bukan sekadar regulasi jasa keuangan. Esper, yang juga menjabat sebagai anggota Coinbase Global Advisory Council, menyoroti ancaman dari negara pesaing. Menurutnya, Beijing saat ini sedang berinvestasi dalam sistem pembayaran yang diarahkan oleh negara, sebuah langkah yang dirancang untuk menghindari pengawasan Amerika Serikat dan mengikis peran sentral dolar AS di panggung global.
Fokus Esper tidak hanya tertuju pada China. Ia menyatakan bahwa CLARITY Act akan memberi Washington alat yang lebih baik untuk memotong celah kripto yang kerap dimanfaatkan oleh aktor peretas asal Korea Utara, seperti Lazarus Group. Regulasi ini memperluas kewenangan sanksi tindakan khusus atau “special measures” milik Departemen Keuangan AS di bawah Pasal 311 USA Patriot Act. Esper melabeli kewenangan ini sebagai salah satu senjata paling tajam yang ada untuk melawan aktor jahat.
Penolakan Sebelum Reses
Meski didukung oleh mantan pejabat tinggi pertahanan, jalan rancangan undang-undang ini belum mulus di parlemen. Pemimpin Mayoritas Senat John Thune sudah mengajukan mosi penutup (cloture) untuk membawa CLARITY Act ke lantai Senat pada bulan September. Namun, kubu Demokrat disebut menolak keras adanya pemungutan suara sebelum masa reses Agustus dimulai. Thune menyampaikan langsung kebuntuan ini dengan mengatakan bahwa kubu Demokrat bersikeras menolak pemungutan suara untuk RUU ini.
Pemungutan suara untuk cloture akhirnya dijadwalkan pada 15 September. Syaratnya tinggi: membutuhkan 60 suara dukungan agar aturan ini bisa berlanjut. Menurut berbagai analis yang merujuk pada pasar prediksi, peluang lolosnya CLARITY Act saat ini hanya berkisar di angka 17%. Sentimen pesimis ini juga mendapat konteks tambahan dari dinamika di lapangan, di mana proposal BIP-110 dipastikan mati dengan “rantai 2 blok” setelah hanya mengumpulkan 2,5% dukungan dari para penambang.
Batas Waktu Pertengahan September
Dengan peluang 17%, kelompok lobi kripto memiliki waktu hingga pertengahan September untuk mengamankan sisa suara yang dibutuhkan. Strategi mereka kini bertumpu pada negosiasi seputar aturan etika, ketentuan imbal hasil atau yield stablecoin, serta klausul perlindungan bagi para pengembang dalam regulasi terpisah yakni BRCA.
📌 Baca JugaAustralia Punya ATM Kripto Terbanyak di Asia-Pasifik - Tapi 96 Mesin Baru Saja Dimatikan Paksa Selama 3 Bulan
Bagi pelaku industri, bulan September akan menjadi pembuktian sejauh mana mereka bisa mencari celah kompromi dengan pembuat kebijakan di Washington, terutama ketika urusan keamanan nasional dan kepentingan politik partai saling berbenturan.
Dilansir dari Cointelegraph.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




