Pada 5 Mei 2026, OpenAI membuktikan Konjektur Jarak-Satuan Erdลs - sebuah teka-teki matematika terbuka berusia 80 tahun - menggunakan model AI mereka. Pembuktian mesin buatan OpenAI langsung diverifikasi keakuratannya oleh peraih Fields Medal, Tim Gowers. Di pekan yang sama, peneliti Anthropic Levent Alpรถge memasukkan soal serupa ke model offline ‘Claude Mythos’ yang belum dirilis, dan mendapatkan jawaban yang dinilai lebih ringkas.
Adu cepat dua perusahaan kecerdasan buatan merambah teka-teki lain. Anthropic memformalkan bukti berabad-abad dari Teorema Terakhir Fermat. Beberapa hari kemudian, OpenAI memecahkan soal matematika berusia 90 tahun - hanya berselang beberapa jam setelah seorang peneliti manusia menerbitkan buktinya sendiri.
Rentetan manuver OpenAI dan Anthropic menjalar hingga ke pasar kripto. Posisi ekosistem AI yang kian mendominasi memicu token Venice (VVV) naik 34%, memberi gambaran bagaimana panasnya perlombaan teknologi itu memikat pemodal. Di ranah akademik murni, kecepatan komputasi justru menjadi peringatan keras.
Rumor Saja Cukup Memicu Eksekusi AI
Terence Tao, matematikawan terbaik dunia yang hidup sekaligus peraih Fields Medal 2006, memperingatkan bahwa AI sedang menguras pasokan problem matematika terbuka yang bermakna. Problem akademik di bidang ini jumlahnya amat sedikit. Tao menyebut AI sanggup menghabiskan batas eksplorasi tanpa membuka garis depan baru yang setara bagi manusia, berbeda dengan disiplin sains lain.
“Kita sekarang melihat bahwa bahkan rumor seseorang sedang mengerjakan suatu soal bisa memicu upaya AI besar-besaran untuk meratakannya sebelum proyek riset asli sempat mencapai potensi penuhnya,” tulis Tao merespons fenomena itu.
Jawaban Mentah Tidak Lagi Cukup
Tao menilai larangan penggunaan AI di matematika mustahil diterapkan dari sisi teknis. Ia memilih pendekatan terstruktur untuk mengendalikan pergerakan instan komputasi analitik.
๐ Baca JugaPeneliti OpenAI dan Anthropic Pilih Mundur - Sebut Peluang AI Musnahkan Manusia Tembus 10%
Sebagai solusi, Tao mengusulkan agar komunitas akademik melabeli soal-soal tertentu dengan status “analisis-diperlukan”. Syarat baru ini menuntut pemecah soal melangkah lebih jauh dari sekadar menyetor jawaban final. Sebuah jawaban mentah dari mesin tidak lagi cukup, melainkan harus disertai penalaran utuh yang mengungkap wawasan tentang soal-soal lain di sekitarnya.
Ketika komputasi sanggup memecahkan masalah puluhan tahun dalam hitungan jam, nilai akademis bukan lagi ditentukan semata dari kemampuan menemukan jawaban akhir, melainkan mendedahkan wawasan mendalam menuju ke sana. Dilansir dari Decrypt.
Baca juga: Peneliti OpenAI dan Anthropic Pilih Mundur - Sebut Peluang AI Musnahkan Manusia Tembus 10%
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




