Peluang pengesahan Digital Asset Market Clarity Act, atau CLARITY Act, runtuh. Galaxy Digital kini memangkas peluang lolosnya regulasi ini menjadi hanya 10%. Sentimen yang sama terlihat di platform prediksi Polymarket, di mana probabilitas beleid ini menjadi undang-undang anjlok dari 82% ke bawah 20%. Padahal, industri kripto sudah mengeluarkan dana lebih dari $100 juta untuk melobi regulasi yang awalnya mendapat dukungan dari kedua partai politik ini.
Jalan RUU ini awalnya terlihat lapang. Pada Januari 2026, CLARITY Act keluar dari komite Senat dengan kantong suara 15-9. Saat itu, draf setebal 309 halaman ini bahkan diperkirakan akan langsung ditandatangani oleh Gedung Putih. Namun, optimisme itu kini tertahan oleh tiga sengketa utama yang memblokir kemajuan regulasi.
Pertarungan Yield dan Batas Desentralisasi
Titik buntu pertama berpusat pada aturan yield stablecoin. Sengketa ini menghadapkan Coinbase dengan lobi perbankan. Jika larangan yield diberlakukan, Coinbase kehilangan pendapatan tahunan sekitar $1,35 miliar dari program hadiah USDC. Di sisi lain, lobi perbankan mendesak agar larangan yield stablecoin tetap dipertahankan dalam draf final.
Perselisihan kedua menyangkut kriteria desentralisasi cukup yang menjadi syarat sebuah token diklasifikasikan sebagai komoditas. Kelompok Demokrat menolak definisi saat ini dengan argumen yang merujuk pada kejatuhan bursa FTX. Mereka mencontohkan bahwa di bawah definisi sekarang, token FTT milik Sam Bankman-Fried bisa saja lolos status sebagai komoditas.
Konflik Etika di Menit Akhir
Masalah ketiga yang menyumbat beleid ini adalah aturan etika bagi pejabat publik. RUU ini memang melarang pejabat menerbitkan aset digital, tetapi tidak mewajibkan mereka mendivestasikan kepemilikan aset lama. Sengketa ini memuncak pada 14 Agustus, saat Office of the Comptroller of the Currency (OCC) memberikan izin bank trust kepada World Liberty Financial, entitas yang 38% kepemilikannya dikuasai keluarga Trump.
Senator Elizabeth Warren merespons pemberian izin itu dengan menyebutnya sebagai tindakan mencari untung sendiri yang paling terang-terangan. Langkah pemotongan probabilitas CLARITY Act menjadi 10% oleh Galaxy Digital terjadi persis satu hari setelah OCC menerbitkan izin bank trust itu.
๐ Baca JugaKorea Selatan Resmi Blokir Polymarket - Prediksi Curah Hujan Seoul Berujung Jerat Hukum Judi
Konsekuensi Bagi Industri $2,28 Triliun
Senat baru akan kembali bersidang pada 14 September. Jadwal ini menyisakan waktu yang sangat sempit untuk memperdebatkan isi dokumen sebelum pergantian tahun. Jika CLARITY Act gagal disahkan, industri kripto dengan kapitalisasi pasar $2,28 triliun ini tetap berada di bawah rezim regulasi yang belum pasti, terjebak di antara yurisdiksi SEC dan CFTC.
Tanpa landasan hukum permanen, industri terpaksa kembali menghadapi realitas lama. Para pelaku pasar harus bergantung pada penyelesaian sengketa lewat litigasi kasus demi kasus di pengadilan, serta patuh pada kebijakan eksekutif yang tidak memiliki kepastian hukum jangka panjang.
Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




