Peretas Binance memanfaatkan pasar Ethereum Core Aave V3 untuk mengalihkan aset hasil curian. Pada 29 Oktober 2026 antara pukul 20:58 hingga 21:01 UTC, pelaku menyetorkan 60 juta USDT ke dalam protokol pinjaman terdesentralisasi itu. Tanpa jeda lama, dompet di dalam kluster peretas langsung meminjam 19.762 Wrapped Ether (WETH) senilai sekitar $44,6 juta sebelum sistem pengaman sempat bereaksi.
Kontrak pintar Aave sendiri tidak mengalami kebocoran kode maupun eksploitasi celah keamanan. Intervensi yang dilakukan tim pengelola murni berstatus tindakan pencegahan untuk memutus peredaran dana curian. Kendati demikian, langkah penghentian pasar itu justru memicu persoalan berantai bagi para pengguna lain.
Jeda 41 Menit Sebelum Pembekuan Protokol
Transaksi pembekuan perdana oleh guardian protokol Aave baru dieksekusi pada pukul 21:42 UTC. Penutupan darurat itu dilakukan guna mencegah peretas menyetorkan sisa dana curian lain yang masih berada di bawah kendali mereka.
Menurut analisis penyedia risiko LlamaRisk, posisi pinjaman peretas tercatat memiliki agunan $59,9 juta USDT dengan kewajiban pinjaman $43,8 juta WETH. Angka ini menunjukkan posisi pelaku masih berstatus overcollateralized, dengan nilai agunan yang masih melampaui total utang pada saat transaksi terjadi.
Mengapa Pengguna Normal Ikut Terimbas
Mekanisme darurat yang diberlakukan memblokir seluruh setoran baru ke dalam pasar. Di sisi lain, jalur penarikan modal bagi pemberi pinjaman dan pembayaran utang bagi peminjam tetap dibuka normal oleh protokol.
Dalam skenario normal, lonjakan suku bunga pinjaman akan memicu masuknya pasokan likuiditas segar untuk meredakan ketegangan pool. Namun karena akses setoran baru ditutup, lonjakan suku bunga tidak mampu menarik likuiditas segar ke dalam sistem, sehingga biaya pinjaman melonjak tajam dalam waktu singkat.
Akibatnya, pengguna biasa yang sama sekali tidak terkait peretasan justru berada di posisi sulit. Peminjam aktif tidak bisa menyetorkan agunan tambahan untuk mengamankan posisi utang mereka. Di saat bersamaan, akumulasi bunga pinjaman terus berjalan dan memperbesar risiko likuidasi aset mereka.
Debat Desain dan Status Pembatasan Aset
Langkah intervensi ini memicu perdebatan luas mengenai arsitektur sistem pinjaman terdesentralisasi. Pendukung model Aave berhadapan dengan pendiri protokol rival Morpho yang mengadvokasi pasar pinjaman terisolasi, di mana risiko dari satu aset atau peristiwa tidak bisa merembet ke aset lain di dalam sistem.
๐ Baca Juga12 Situs DeFi Jadi Sasaran Pembajakan DNS - Tombol Dompet Resmi Disusupi Step Drainer
Aave kini telah membuka kembali operasional pasar pinjaman pada versi V3 dan V4. Kendati pasar sudah dibuka kembali, protokol tetap mengunci 9 aset tertentu agar tidak memberikan kapasitas pinjaman baru sebagai agunan.
Bagi pelaku pasar pinjaman DeFi, peristiwa di Aave memberi pengingat nyata: risiko likuidasi posisi tidak melulu datang dari penurunan harga token, tetapi juga bisa muncul ketika pengelola menutup jalur agunan demi menyelamatkan protokol.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Baca juga: Binance Dibobol, Standard Chartered Sebut Target Uniswap $100 Berpotensi Terlalu Rendah
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




