Hampir 100 wallet di Polymarket kini berada di meja penegak hukum. Chief Legal Officer Polymarket, Neal Kumar, mengonfirmasi perusahaannya telah menyerahkan deretan alamat pseudonim ini ke otoritas hukum. Langkah agresif ini merupakan hasil dari proses pengawasan internal mereka terhadap indikasi perdagangan orang dalam di pasar taruhan kripto itu.
Angka transaksinya bukan jumlah kecil. Analisis Bloomberg yang bersumber dari data Polysights menemukan bahwa sekitar $200 juta transaksi di Polymarket selama semester pertama 2026 membawa ciri aktivitas orang dalam. Dana ini sebagian besar bermuara di pasar geopolitik, khususnya pada isu ketegangan Iran dan gejolak politik Venezuela. Sebagai gambaran, lebih dari $529 juta tumpah di pasar yang bertaruh soal serangan Iran, di mana beberapa wallet baru mendadak muncul dan menaruh dana besar sesaat sebelum peristiwa krusial pecah.
Sifat blockchain publik memang menjaga privasi lewat alamat pseudonim, namun sistem ini menjadi pedang bermata dua. Setiap perpindahan koin, jejak waktu eksekusi, hingga pola jual beli terekam permanen dan bebas dilacak oleh investigator on-chain.
Bocoran Operasi Militer dan Data Internal Google
Tudingan ini sudah menyeret nama elit. Departemen Kehakiman AS (DOJ) mendakwa Gannon Ken Van Dyke, seorang perwira menengah militer AS berpangkat Army Master Sergeant. Ia dituduh mengeksploitasi informasi rahasia negara mengenai operasi militer AS yang menargetkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Berbekal modal $33.000 lebih di Polymarket, ia meraup keuntungan $409.881 berkat bocoran info itu. CFTC pun langsung mengajukan kasus paralel terhadapnya.
Kasus eksploitasi data ini juga merambat ke perusahaan teknologi global. Insinyur Google Michele Spagnuolo turut diseret oleh DOJ dan CFTC karena dituduh memakai data internal Google Search yang belum dirilis. Ia menggunakan data rahasia itu untuk menempatkan taruhan $2,7 juta, dan berhasil mengantongi keuntungan $1,2 juta sebelum aksinya terendus.
Dilarang di Eropa, Ditekan di Amerika
Rentetan skandal ini membuat ruang gerak Polymarket makin sempit di mata hukum internasional. Pemerintah Prancis baru saja memerintahkan seluruh penyedia layanan internet (ISP) di negaranya untuk memblokir akses pengguna ke platform Polymarket. Regulator setempat menilai situs ini beroperasi murni sebagai arena perjudian tanpa izin, ditambah dengan prosedur pemeriksaan identitas klien yang lemah. Sikap tegas ini tak lama berselang diikuti oleh Republik Ceko yang juga mulai membatasi akses warganya.
📌 Baca JugaBank Sentral Korea Selatan Selesaikan Pilot CBDC Pertama - Tapi Keamanannya Malah Dinilai Sendiri Oleh Bank Peserta
Di Amerika Serikat, tekanan politik ikut memanas. Enam senator dari Partai Demokrat mendesak CFTC untuk segera membatasi seluruh kontrak taruhan yang berkaitan dengan kematian tokoh publik demi alasan menjaga keamanan nasional.
Pasar prediksi kini rentan berubah jadi arena balap bagi para pemegang bocoran data. Ketika taruhan bukan lagi soal tebakan jitu melainkan adu cepat memanfaatkan rahasia, pengguna anonim ini tak akan bisa selamanya sembunyi di balik deretan kode dompet kripto mereka.
Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




