Ripple Prime - nama baru untuk Hidden Road setelah diakuisisi Ripple senilai $1,25 miliar, sebagian dibayar dalam XRP - kini tercatat sebagai peserta resmi National Securities Clearing Corporation (NSCC), anak usaha Depository Trust and Clearing Corporation (DTCC) yang mengkliring hampir seluruh transaksi saham di Amerika Serikat. Perusahaan ini juga mendapat kursi di kelompok kerja tokenisasi DTCC yang beranggotakan sekitar 50 firma, berdampingan dengan JPMorgan, Goldman Sachs, BlackRock, Citi, Circle, dan Ondo Finance. Total nilai transaksi yang dikliring Ripple Prime kini lebih dari $3 triliun per tahun untuk lebih dari 300 klien institusional.
Bagi sebagian komunitas XRP, deretan kredensial ini langsung dibaca sebagai bukti bahwa token tersebut sedang “dicolokkan” ke sistem yang memproses nilai transaksi hingga kuadriliunan dolar. Tapi kalau ditelusuri sampai ke mekanismenya, klaim itu jauh lebih sempit dari yang terlihat di permukaan.
Status DTCC Tidak Otomatis Berarti Rel XRP
Pendaftaran Hidden Road CIV US LLC di direktori NSCC pada 2 Maret 2026 pada dasarnya cuma menandai Ripple Prime sebagai peserta pasar biasa - proses administratif yang rutin dilalui puluhan firma tiap bulan. Kliring transaksi over-the-counter Ripple Prime tetap berjalan lewat Pershing, anak usaha BNY, di atas infrastruktur DTCC yang sepenuhnya non-blockchain; kode kliring di catatan resmi pun milik Pershing, bukan Ripple. Kursi di kelompok kerja tokenisasi juga bukan kontrak bisnis, melainkan sekadar tempat duduk di meja penyusun standar - dan beberapa anggotanya, terutama JPMorgan lewat platform Kinexys, justru menjalankan ledger tokenisasi sendiri yang bersaing langsung dengan XRP Ledger. Layanan tokenisasi DTCC sendiri, yang bulan ini mulai uji coba produksi terbatas untuk saham Russell 1000, ETF besar, dan Treasury sebelum peluncuran penuh Oktober mendatang, tidak dibangun di atas XRP Ledger.
Tiga Jalur Permintaan XRP, dan Kenapa Semuanya Masih Tipis
Secara mekanis, cuma ada tiga cara aktivitas Ripple Prime bisa benar-benar menciptakan permintaan untuk XRP: biaya jaringan, jaminan (kolateral), atau aset penyelesaian transaksi. Jalur biaya nyaris tak berarti secara matematis - total XRP yang terbakar sebagai biaya jaringan sejak 2012 baru sekitar 14 juta token, sementara suplai totalnya 100 miliar; bahkan jika seluruh aktivitas pasca-transaksi Ripple Prime dipindah on-chain, tambahan permintaannya cuma terasa di kisaran ribuan dolar per hari. Jalur kolateral lebih punya potensi: CEO Ripple Prime, Mike Higgins, terbuka menyebut ambisi menjadikan Bitcoin, Ether, XRP, dan Solana sebagai jaminan margin dan penyelesaian bagi klien institusional. Tapi ambisi itu masih sebatas rencana, belum jadi arus dana yang bisa diukur.
📌 Baca JugaWhale Terkait a16z Berbalik Jadi Penjual, Setor 28 Juta Dolar Token HYPE ke Bursa - Harga Ambles 12%
Antara Kredensial dan Aliran Dana yang Sesungguhnya
Yang membedakan cerita ini dari sekadar rumor bullish adalah bahwa kredensial-kredensial itu nyata - Ripple memang membangun bisnis kliring institusional sungguhan, bukan cuma pengumuman kemitraan kosong. Masalahnya ada di jarak antara “punya kursi di ruang yang tepat” dan “uang benar-benar mengalir lewat token yang tepat”. Sampai porsi aktivitas pasca-transaksi yang benar-benar pindah ke XRP Ledger terlihat di angka, atau porsi kolateral institusional dalam XRP mulai naik signifikan, klaim soal triliunan dolar “menyentuh” XRP tetap lebih dekat ke harapan komunitas ketimbang fakta di lapangan.
Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




